Bioenergi Sebagai Pola Hukum Alam

Posted by bioenergicenter on Minggu, 30 Agustus 2009 | 0 komentar

Setiap makhluk yang telah terlahir di dalam suatu ruang kehi¬dup¬an, harus mengikuti hukum Tuhan yang berlaku dalam ruang kehidupan tersebut. Dengan demi¬kian, setiap manusia yang ingin se¬lalu berada di jalan kesuksesan, tan¬pa kecuali harus mengikuti dan me¬nerapkan hukum Tuhan atau hukum alam yang berlaku di ruang atau alam kehidupan manusia dalam men¬jalankan kehidupan sehari-hari.
Terdapat berbagai jenis hu¬kum alam yang mengatur kehi¬dupan di alam kehidupan manusia, lima di antaranya merupakan acuan dari jalan kesuksesan hidup yang jarang diajarkan di sekolah-sekolah, dengan demikian perlu saya jelaskan secara rinci dan sistematis pada setiap bagian buku ini agar mudah dimengerti dan diterapkan dalam menempuh jalan kekayaan hidup. Kelima hukum alam yang saya maksud adalah :
a. Hukum sebab-akibat
Dalam kehidupan ini, bila kita tanam padi, proses pembuahannya hanya membutuhkan waktu enam bulan, sedangkan bila kita menanam pohon cabai, proses pembuahannya membutuhkan waktu 3 bulan.
Sejajar dengan ini, pada saat kita menanamkan kebaikan besar, proses pembuahannya tentu saja membutuhkan waktu relatif lebih lama daripada menanam kebaikan kecil. Jadi, kebaikan apa pun yang kita tanamkan dalam hidup ini akan membutuhkan waktu untuk membuahkan hasilnya dan dengan demikian kita harus belajar bersabar. Pada saat Anda sedang tidak sabar, usaplah dada Anda perlahan-lahan sambil menelan air ludah, dan katakan dalam hati; “Sabar, sabar, sabar ... ” Dengan jalan ini nafsu dan emosi Anda perlahan-lahan akan menjadi reda dan akan menjadi sabar kembali.
Bagi mereka yang tidak sabar, seringkali mengorek-ngorek benih-benih kebaikan yang telah ia tanamkan sebelumnya. Dan hal itu justru akan membuat benih-benih tersebut tidak berbuah. Sebaliknya, bagi mereka yang telah berbuat dosa, saya sarankan sebaiknya untuk bertobat dan harus sering mengorek-ngorek benih dosanya tersebut serta me¬mohon ampun dosa kepada Tuhan agar benih-benih tersebut tidak ber¬buah.
Berdasarkan hukum sebab-akibat, bila kita ingin memperoleh:
1) Cinta Sejati ; kita harus memberi cinta sejati terlebih dahulu kepada orang lain.
2) Persahabatan ; kita harus memberi persahabatan terlebih dahulu kepada orang lain.
3) Kebahagiaan ; kita harus memberi kebahagiaan terlebih dahulu ke¬pada orang lain.
4) Kekayaan ; kita harus memperkaya orang lain terlebih dahulu; di dunia ini, tidak ada seorang pun yang dapat menjadi kaya apa¬bila dirinya tidak memperkaya orang lain. (Cara terbaik memperkaya orang lain adalah menyadarkan mereka tentang harta dan potensi yang mereka miliki dan memberi petunjuk jalan agar mereka berhasil meng¬embangkan kekayaan lahir dan batinnya secara seimbang).
Begitu pula seterusnya, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik atau dengan kata lain, setiap tindakan (sebab) kita akan meng¬akibatkan Bioenergi kembali kepada diri kita sendiri. Neraca alam semesta begitu sempurnanya, sehingga Nabi Muhammad SAW ber¬sabda, “Ti¬dak ada hutang yang tidak harus dibayar dan tidak ada amal ke¬ba¬jikan yang tidak diperhitungkan.”
Orang dapat hidup kaya, terkenal dan berpengaruh dalam ke¬hidupannya sekarang ini disebabkan oleh setidaknya 3 kali di masa lalunya telah banyak berbuat amal kebajikan. Sedangkan kejahatan yang ia tanamkan pada kehidupan sekarang ini baru akan ia petik nanti pada saat¬nya tiba, karena alam membutuhkan waktu untuk memroses pem¬buahannya.
Di dunia kehidupan manusia, banyak orang yang telah dekat dengan surga atau alam abadi, tapi dalam perjalanannya, karena tidak mampu mengendalikan prasangka buruk, nafsu, egoisme dan emosi negatifnya (antara lain: marah, benci, dendam, iri hati dan cemburu, khususnya serakah) membuat mereka menyimpang dari misi ke¬hidup¬annya semula sebagai manusia, sehingga sedikit dari mereka yang masuk ke surga atau ke alam abadi dan mengalami kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan abadi.
Kepada mereka patut kita sayangkan dan kasihani. Untuk itu marilah kita segarkan ingatan mereka dan dengan segala kerendahan hati memberi petunjuk kepada mereka untuk mengikuti hati nurani mereka masing-masing. Dalam keadaan pikirannya sedang tercemar oleh prasangka buruk, nafsu, egoisme dan emosi negatifnya, kita beri petunjuk agar mereka berpedoman dan menerapkan falsafah (prinsip-prinsip kehidupan yang selaras dengan hukum alam) yang dituangkan dalam buku ini, atau ajaran agama mereka menurut kepercayaan masing-masing, sehingga mereka selalu berada di jalan kekayaan hidup dan men¬capai keabadian, serta mengalami kedamaian, kesejahteraan dan ke¬bahagiaan abadi.
Kepada orang baik yang hidupnya miskin dan sering terkena musibah, marilah kita beri semangat dan yakini bahwa berdasarkan hukum sebab-akibat, perbuatan baik mereka akan membuat hidup mereka lebih baik di kemudian hari dan mereka sedang berada di jalan kesuksesan hidup menuju keabadian. Pada saat bersamaan bila mereka perlukan, bantulah meringankan penderitaan mereka dengan penuh cinta-kasih.
Dengan menghubungkan antara kejadian (akibat) dengan sebab¬nya, maka segala sesuatu di dunia ini dapat kita atasi dengan mudah dan tuntas. (Bacalah kalimat ini setiap hari sekali sampai terekam dalam ingatan Anda)
Kebanyakan orang di dunia ini hanya berusaha menyelesaikan setiap masalah (akibat) yang timbul tanpa adanya upaya yang cukup untuk menelusuri dan mencari sebabnya. Bila demikian halnya, maka masalah yang ditangani akan menjadi berlarut-larut dan tidak dapat diselesaikan secara tuntas. Tapi, bila ia mencari dan mengatasi sebabnya dari suatu masalah yang timbul, maka masalah yang ia hadapi berangsur-angsur akan selesai secara tuntas.
Ketidaktahuan tentang hukum sebab-akibat mengharuskan manusia pada umumnya untuk mengeluarkan jumlah waktu, tenaga, pikiran dan uang yang relatif lebih besar untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul secara silih berganti sepanjang hidupnya.
Kesadaran tentang hukum sebab-akibat akan mendorong manusia untuk menghapus setiap penyebab dari masalah sebelum terjadi. Dengan jalan ini pengeluaran waktu, tenaga, pikiran, dan uang akan menjadi relatif jauh lebih efisien daripada menyelesaikan masalah setelah terjadi. Sebagai contoh, bila setiap manusia menyadari bahwa:
1) Kemalasan, bermabuk-mabukan, main perempuan/pria atau main judi adalah kenikmatan sementara dan sebagai penyebab dari kerusakan dan penderitaan hidup (akibat), maka dengan menghindari 4 hal tersebut berarti ia telah menghapus penyebab dari kerusakan dan penderitaan hidup.
2) Merokok atau memakan daging hewan itu adalah penyebab dari berbagai penyakit yang mematikan (akibat), antara lain: penyakit jantung, kanker dan stroke, maka dengan tidak merokok dan tidak memakan daging hewan (vegetarian), berarti ia telah menghapus penyebab dari berbagai penyakit, kematian dini dan penderitaan.
3) Memperoleh kekayaan dan kedudukan secara tidak halal adalah penyebab dari berbagai masalah dan kehancuran (akibat), maka dengan menghindari peroleh kekayaan dan kedudukan secara tidak halal berarti ia telah menghapus penyebab dari berbagai masalah dan kehancuran.

Kelahiran manusia disebabkan oleh dua faktor:
1) Secara fisik (lahiriah) disebabkan oleh ayah dan ibunya.
2) Secara rohani (batiniah) disebabkan oleh adanya dosa-dosa yang perlu ia lunaskan pertobatannya sebagai manusia dan me¬ngum¬pulkan kekayaan yang cukup dengan berbuat kebaikan secara berkelanjutan agar memungkinkan mereka pulang ke rumahnya di alam abadi.
Secara fisik keberadaan (kelahiran) manusia disebabkan oleh ayah dan ibunya. Bila manusia menyadari bahwa keberadaannya di dunia ini disebabkan oleh ayah dan ibu (orangtua)-nya, tubuh dan darah da¬ging¬nya berasal dari ayah dan ibunya, maka cinta kasih dan akhlak (budi luhur) yang pertama harus ia baktikan adalah kepada orang tuanya. Bi¬la ia selalu menyayangi, memberi perhatian, berbuat kebaikan dan menempatkan kepentingan orang tuanya di atas kepentingan pribadinya secara tulus, maka ia bukan saja akan menggugah nanti nurani semesta (alam seisinya), tapi Tuhan pun akan memberi berkah yang berlimpah ke¬padanya.
Seperti pepatah kuno mengatakan: “Surga ada di telapak kaki orang tua kita.” Artinya bila kita dapat dijadikan sebagai tempat berpijak atau tum¬puan hidup bagi orang tua kita, maka kita akan menjalani hidup di bumi ini bagaikan di surga.
Sejarah telah membuktikan, mereka yang benar-benar selalu mencintai, berbudi, berbuat kebaikan, menempatkan kepentingan orangtua di atas kepentingannya sendiri dan menjadikan dirinya sebagai tumpuan hidup (tempat berpijak) orangtuanya maka jalan hidupnya selalu terang, lancar dan banyak berkahnya. Sedangkan mereka yang bia¬¬sa-biasa saja terhadap orang tuanya jalan hidupnya pun biasa-biasa saja. Dan mereka yang kualat (berucap kasar, berbuat kasar, meng¬acuhkan dan menyepelekan kepentingan orang tuanya atau salah satu dari itu) maka jalan hidupnya gelap, berliku-liku, banyak masalah dan tanpa ia sadari sebabnya, ada di antara anak-anaknya yang nantinya juga akan ada yang sama kualat kepadanya dan membuat hidupnya men¬derita.
Apa pun (sekali lagi apa pun) kesalahan yang diperbuat oleh orang tuanya, ia harus dapat memaafkan mereka dan tetap mencintai serta men¬junjung tinggi mereka dengan tulus. Mengapa? Sebab sebagai ma¬nusia, ia pun tidak sempurna dan tidak luput dari kesalahan, tanpa ia sadari suatu saat ia juga dapat berbuat kesalahan dan membutuhkan maaf dari orang lain.

b. Hukum kelipatan timbal balik
Hukum kelipatan timbal balik menjamin adanya kelangsungan hidup dan keberlimpahan. Baik atau buruknya keberlimpahan tersebut sama dengan kebaikan atau keburukan yang ditanam sebelumnya, yang diatur menurut hukum sebab-akibat.
Dengan adanya hukum kelipatan timbal-balik yang mengatur kehidupan di bumi ini, walaupun jumlah populasi dunia semakin hari semakin bertambah banyak, tapi jumlah makanan yang dihasilkan secara keseluruhan selalu mencukupi dan berlimpah.
Hukum kelipatan timbal-balik yang merupakan bagian dari hukum alam juga menjamin bahwa: seorang pelajar yang telah menguasai satu bidang speasialisasinya, akan dapat menguasai juga bidang-bidang lain dengan menerapkan prinsip-prinsip yang sama.
Maksud merupakan prinsip yang sama di sini jangan disamakan dengan menerapkan cara yang sama! Sebab dalam kehidupan ini, benar atau salah itu adalah situasional. Artinya, suatu cara yang benar pada situasi itu belum tentu benar jika situasinya berlainan. Dengan demikian janganlah sekali-kali kita menyamakan arti dari prinsip dengan cara. Prinsip di sini maksudnya adalah prinsip-prinsip yang selaras dengan hukum alam dan dinamakan falsafah atau filsafat.
Tidak ada yang statis di dunia ini, tubuh kita mengalami pertukar¬an yang konstan dengan tubuh alam semesta; pikiran kita berinteraksi secara dinamis dengan pikiran kosmik; Bioenergi adalah penyaluran dari energi kosmik.
Arus kehidupan tidak lain merupakan interaksi yang harmonis anta¬ra semua elemen dan kekuatan yang membentuk bidang dari keberada¬an. Interaksi yang harmonis dari elemen-elemen dan kekuatan-kekuatan dalam kehidupan kita ini beroperasi menurut hukum pemberian dan pene¬rimaan.
Karena tubuh dan pikiran kita, serta alam semesta ini dalam pertu¬kar¬an yang konstan dan dinamis, maka menghentikan sirkulasi energi sama saja dengan menghentikan arus darah. Bila darah berhenti meng¬alir, ia mulai mengental, membeku, dan menggenang. Itulah sebabnya kita harus memberi dan menerima agar menjadi kaya, makmur, dan te¬rus sejahtera - atau apa saja yang kita inginkan dalam hidup.
Uang merupakan energi hidup. Karena itu, bila kita menghentikan sirkulasi uang, atau bila kita hanya berusaha menahan uang kita dan menimbunnya, serta tidak disirkulasikan melalui sistem, seperti sistem perekonomian, perdagangan dan investasi, perbankan dan fiskal, maka kita sama saja menghentikan sirkulasi baliknya ke dalam hidup kita.
Cara mensirkulasikan uang yang kita peroleh secara konstruktif dan berkesinambungan adalah sebagai berikut:
1) Untuk meningkatkan kesejahteraan umum masyarakat melalui dunia usa¬ha menurut sistem pasar, perekonomian, investasi, dan perdaga¬ngan bebas.
2) Untuk membantu atau menyenangkan orang tua.
3) Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.
4) Untuk mencukupi kebutuhan pendidikan anak-anak.
5) Untuk menolong orang-orang yang sedang terkena musibah dan ku¬rang mampu.
6) Untuk mencukupi kebutuhan pribadi hidup kita masing-masing secara seimbang dan sederhana.

Kita hendaknya dapat mengelola uang secara benar dan mem¬pekerjakan uang, serta bukan sebaliknya diperbudak oleh uang dan melupakan kesehatan dan peningkatan kualitas hidup kita demi mem¬peroleh tambahan dan atau mempertahankan uang semata.
Setiap hubungan di dunia ini dan kelangsungannya dilandasi oleh hukum pemberian dan penerimaan. Apakah hubungan antar manusia, antar manusia dengan hewan dan makhluk lain, semua kelangsungan hubungan dilandasi oleh hukum pemberian dan penerimaan, semakin sering dan banyak pemberian dan penerimaan, secara alami akan sema¬kin erat hubungan tersebut.
Pemberian menyebabkan penerimaan dan penerimaan menye¬babkan pemberian. Apa yang ke luar pasti masuk kembali, apa yang turun pasti naik kembali, dan begitulah seterusnya. Dalam kehidupan ini, semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita menerima, walau tidak kita maksudkan imbalannya.
Dengan semakin banyak kita memberi, berarti kita sedang menerima keadaan yang berlimpah-limpah dari sirkulasi alam semesta ke dalam hidup kita. Sebenarnya, apa saja yang bernilai dalam hidup ini hanya berlipatganda pada saat diberikan. Apa yang tidak berlipat ganda melalui pemberian adalah karena tidak sepantasnya pemberian maupun penerimaan. Kalau saja melalui tindakan pemberian, Anda merasa kehilangan sesuatu, maka pemberian itu bukanlah pemberian sebenarnya dan tidak akan menyebabkan penambahan. Kalau saja Anda memberi dengan menggerutu, maka tidak ada energi di balik pem¬be¬rian itu.
Niat di belakang setiap pemberian dan penerimaan itulah yang ter¬penting. Niat itu harus selalu untuk menciptakan kebahagiaan bagi pemberi maupun penerima. Sebab kebahagiaan itu merupakan penun¬jang dan penerus kehidupan yang menghasilkan penambahan. Pengem¬balian akan berbanding langsung dengan pemberian pada saat pem¬berian itu tanpa kondisi dan berasal dari hati kita. Bila penambahan ener¬¬gi di belakang pemberian itu ingin berlipat ganda secara alamiah, tin¬dakan pemberian haruslah selalu membahagiakan, baik kepada si pem¬¬beri maupun kepada si penerima.
Menerapkan hukum kelipatan balik atau hukum pemberian dan penerimaan ini sebenarnya sederhana sekali. Bila Anda menginginkan kelipatan cinta kasih, berilah cinta kasih kepada orang lain; bila Anda menginginkan kelipatan kenikmatan, perhatian dan penghargaan dengan tulus tanpa pamrih kepada orang lain, berilah perhatian dan penghargaan pada orang lain; bila Anda menginginkan kekayaan materi, berilah per¬tolongan dengan tulus tanpa pamrih kepada orang untuk memperoleh ke¬kayaan materi. Sebenarnya, cara termudah untuk memperoleh ke¬li¬patan dari apa yang Anda inginkan dari alam adalah dengan menolong orang memperoleh apa yang mereka inginkan dengan tulus tanpa pa¬mrih. Dengan begitu, Anda akan memperoleh kelipatan dari apa yang An¬da inginkan.
Prinsip ini bekerja sama baiknya untuk para individu, perusahaan, masyarakat, maupun bangsa. Bila Anda ingin diberkati dengan semua hal yang baik dalam hidup, belajarlah dengan diam-diam untuk member¬kati semua orang dengan semua hal yang baik.
Pikiran untuk memberi, pikiran untuk memberkati dan do’a yang sederhana sekalipun memiliki kekuatan untuk memengaruhi orang lain. Ini disebabkan oleh turunnya tubuh kita ke tingkat sifat dasarnya yang berupa penjelmaan dari energi dan informasi dalam suatu energi dan in¬for¬masi alam semesta.
Jalan yang terbaik untuk menerapkan hukum pemberian dan pene¬rimaan, serta memulai keseluruhan proses dari sirkulasi adalah mem¬buat keputusan bahwa setiap Anda bertemu dengan siapa saja, be¬rilah me¬reka sesuatu. Tidak perlu dalam bentuk materi; bisa saja berupa nasihat baik, suatu pujian atau do’a. Sebenarnya, jenis terkuat dari pem¬berian bukanlah berupa materi. Pemberian berupa do’a, ke¬pedulian, per¬hatian, penghargaan, kasih sayang dan cinta kasih me¬rupakan pemberian yang amat berharga, dan itu semua tidak mem¬bebani Anda dengan ber¬bagai biaya apa pun.
Ke mana pun Anda pergi, buatlah keputusan untuk “memberi” kepada siapa saja Anda bertemu. Selama Anda “memberi” Anda akan “menerima”. Semakin banyak Anda memberi, Anda akan semakin percaya diri memperoleh pengaruh ajaib dari hukum ini.
Energi alam sejati (Bioenergi) adalah suatu kemakmuran dan ke¬berlimpahan; secara alami kita makmur karena alam selalu menunjang se¬tiap kebutuhan dan keinginan manusia. Kita tidak kekurangan apa-apa, karena Bioenergi merupakan segala bidang kemampuan dan ke¬mung¬kinan yang tidak terbatas. Dengan demikian, kita harus menge¬ta¬hui bahwa kita sudah ditanami dengan kemakmuran, tidak masalah seberapa banyak atau sedikit uang yang kita miliki. Karena sumber se¬luruh kekayaan adalah tranformasi dari Bioenergi. Bioenergi yang mengetahui bagaimana memenuhi kebutuhan, kemakmuran termasuk kenikmatan, cinta kasih, gelak tawa, kedamaian, keharmonisan, dan penge¬tahuan. Bila kita mencari semua itu bukan untuk diri kita terlebih da¬¬hulu, tapi untuk orang lain, maka semuanya akan datang kepada kita se¬cara spontan.

c. Hukum ketidakmelekatan
Supaya kita memperoleh apa saja dalam fisik alam semesta, kita harus berniat dan memberi perhatian (fokus) yang cukup pada tujuan kita, serta pada saat yang bersamaan melepaskan kemelekatan kita pada hasilnya.
Bioenergi selalu mengikuti pikiran, dan hati manusia dapat menyerap, menyimpan dan menjelmakan energi ke dalam fisik alam semesta berupa kekayaan materi, antara lain: kesehatan, uang, makanan, pakaian, rumah, mobil, perhiasan, bisnis, jabatan, kekuasaan dan keka¬yaan materi lainnya. Inilah sebabnya apa saja yang dapat dibayangkan dan di percaya oleh pikiran manusia, pasti dapat dicapai dengan sikap mental positif tanpa mengambil hak orang lain.
Dengan keyakinan yang kita punya secara otomatis Bioenergi bekerja dalam tubuh kita untuk mendapatkan kekayaan dalam fisik alam semesta.
sua¬tu wilayah. Itu akan menciptakan kegelisahan; itu akan berakhir dengan membuat manusia merasa kosong dan hampa di dalam kehi¬dup¬¬an¬nya, karena ia menukar kekayaan batinnya dengan simbolnya sen¬diri.
Pada umumnya, manusia secara konstan mencari rasa aman dan ia akan menemukan bahwa mencari rasa aman hanyalah suatu ilusi. Ke¬banyakan orang mencari uang untuk tujuan rasa aman, dengan demi¬kian boleh kita katakan bahwa kemelekatan dengan uang adalah suatu pertanda dari rasa tidak aman. Ia mungkin mengatakan, bila ia sudah me¬¬miliki sekian miliar dolar, maka ia akan merasa aman. Kemudian ia akan mandiri secara keuangan dan ia akan pensiun. Kemudian ia akan menger¬jakan segala hal yang ia benar-benar ingin kerjakan. Tapi itu ti¬¬dak pernah terjadi dan pasti tidak akan pernah terjadi.
Mereka yang mengejar rasa aman akan mengejarnya sampai seumur hidup tanpa pernah menemukannya. Ia tetap sukar diperoleh karena rasa aman tidak datang dari uang. Kemelekatan terhadap uang akan selalu menciptakan rasa tidak aman berapa pun besarnya uang yang akan mereka miliki. Sebenarnya, sebagian besar dari mereka yang memiliki uang terbanyak itulah yang merasa paling tidak aman. Jadi, selama mereka masih ada kemelekatan, baik dengan uang atau apa saja, maka mereka selamanya tidak pernah menemukan rasa aman dalam dirinya.
Kemelekatan itu datangnya dari kesadaran kemiskinan, karena kemelekatan itu selalu merupakan suatu simbol saja. Sedangkan ke¬ti¬dakmelekatan sama artinya dengan kesadaran kekayaan, karena dari ke¬tidakmelekatan terdapat kebebasan dan kekuatan untuk menciptakan. Hanya dengan ketidakmelekatan inilah seseorang dapat memiliki kekayaan materi, kenikmatan, dan kebahagiaan hidup yang sejati.

d. Hukum polaritas
Dalam kehidupan manusia, alam selalu dibagi menjadi dua bagian yang berlawanan jenis. Setiap jenis alam pasti terdapat sedikit jenis alam berlawanan di dalamnya. Keberadaan mereka adalah untuk saling melengkapi dalam melangsungkan perbaikan hidup dan bukan untuk saling menekan, merusak atau melenyapkan.
Karena alam selalu dibagi menjadi dua bagian yang berlawanan jenis, maka di dunia ini :
Ada siang dan malam.
Ada pria dan wanita.
Ada kebaikan dan kejahatan.
Ada kebahagiaan dan penderitaan.
Ada keuntungan dan kerugian.
Ada kehidupan dan kematian.

Karena setiap jenis alam pasti terdapat sedikit jenis atau unsur alam berlawanan di dalamnya, maka:
1) Setiap pria pasti terdapat sedikit unsur wanita di dalamnya, begitu pula sebaliknya.
2) Setiap kebaikan pasti terdapat sedikit unsur kejahatan di dalamnya, begitu pula sebaliknya.
3) Setiap keberuntungan pasti terdapat sedikit unsur kerugian di dalamnya, begitu pula sebaliknya.
4) Setiap kepintaran pasti terdapat sedikit unsur kebodohan di dalamnya, begitu pula sebaliknya.
5) Setiap kebahagiaan pasti terdapat sedikit unsur penderitaan di dalamnya, begitu pula sebaliknya.
6) Di setiap kehidupan pasti terdapat unsur kematian, begitu pula sebaliknya.

Setiap pria pasti terdapat sedikit unsur wanita di dalamnya, begitu pu¬la sebaliknya. Menyadari akan hal ini dan juga manusia adalah produk dari lingkungannya, maka adalah penting bagi seorang anak kecil dengan jenis kelamin pria misalnya, semasa pertumbuhannya tidak ditempatkan di lingkungan wanita. Dengan jalan ini unsur wanita yang terkandung di dalam dirinya tidak akan tumbuh menjadi lebih besar dan dominan dari¬pada unsur prianya, sehingga membuat dirinya kebanci-bancian. Akan lebih serasi tentunya, bila tubuh fisiknya pria, alam pria di dalam tubuh fisiknya yang lebih dominan daripada alam wanitanya.
Menciptakan hubungan harmonis antara pria dengan wanita untuk hidup yang lebih baik. Bila setiap pria di dunia ini dapat memanfaatkan pemberian Tuhan berupa sedikit unsur wanita yang ada di dalamnya untuk mencoba mengerti dan memenuhi kebutuhan dan selera setiap wanita, begitu pula bila setiap wanita di dunia ini dapat memanfaatkan pemberian Tuhan berupa sedikit unsur pria yang ada di dalamnya untuk mencoba mengerti dan memenuhi kebutuhan dan selera setiap pria, ma¬ka hubungan antara pria dan wanita di dunia ini pasti akan selalu har¬¬monis.
Pada saat hubungan antara pria dan wanita itu terjalin, mereka akan terus saling melengkapi untuk mencukupi kebutuhannya masing-ma¬sing dan memperbaiki kualitas hidupnya. Pada saat kehar¬mo¬nisan hi¬lang, mereka akan menjadi ganas, yang kuat menekan yang le¬mah, ke¬mudian akan saling merusak. Karena tindakan mereka bertentangan dengan maksud dan tujuan Tuhan yang dinyatakan dalam hu¬kum pola¬ritas, maka kehidupan mereka di dunia ini akan men¬jadi sir¬¬na.
Apa yang menyebabkan hubungan pria dan wanita tidak harmonis adalah ketidakpedulian pria maupun wanita untuk mengendalikan egonya atau sang akunya dan membiarkan diri mereka menjadi budak dari nafsu dan emosinya.
Pada saat manusia (pria maupun wanita) membiarkan egonya tum¬buh liar dan bahkan berusaha memuaskan egonya, maka ia dapat dika¬te¬gorikan sebagai orang yang egois, dan orang yang egois cenderung akan menjadi serakah. Serakah itu ada macam-macam jenisnya, ada yang serakah untuk mendapatkan cinta, perhatian dan waktu dari lawan je¬nisnya, dan ada juga yang berkembang menjadi serakah untuk men¬da¬patkan harta dan tahta dari lawan jenisnya.
Orang yang serakah selalu tidak pernah merasa puas dan bersyukur dengan apa yang ia miliki, serta cenderung menjadi pemarah. Se¬lan¬jutnya orang yang pemarah cenderung akan menekan atau menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Cinta kasihnya yang semula murni, setelah dicemari oleh egonya yang kian membesar akan membuat cintanya sebagai tali untuk mengikat kebebasan lawan jenisnya dalam menyalurkan hobinya atau dalam me¬wujudkan misi dan tanggung jawabnya kepada orang tua dan sau¬dara¬nya, perusahaan, karyawan dan relasinya, serta masyarakat dan bang¬sa¬nya dalam batas-batas yang sebenarnya masih wajar.
Dilihat dari sisi lain, seorang pria atau wanita yang peduli untuk mengendalikan egonya dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak egois. Ia akan menjadi pandai dalam membagi perhatian, waktu dan tang¬gungjawabnya secara baik sehingga terciptalah hubungan yang harmonis untuk saling melengkapi dalam melangsungkan perbaikan hi¬dup agar hidup menjadi lebih sempurna.
Perlu kita sadari kembali bahwa:
Cinta kasih, selalu tanpa syarat dan tanpa pamrih, karena ia ber¬¬sumber pada Tuhan - semakin besar kita memberi, semakin besar kita akan memperolehnya - karena Tuhan mengatur kehi¬dupan di dunia ini me¬nurut hukum kelipatan timbal balik.
Tali cinta, selalu dengan syarat dan pamrih, karena ia bersumber pa¬da ego. Semakin besar kita mengikat, semakin besar pula kita akan di¬ikat.
Alam Manusia, sesungguhnya itu tidak suka diikat, semakin diikat ia akan semakin menjauh. Inilah sebabnya saya sering me¬nga¬takan dalam ceramah, bahwa barang siapa yang menggu¬nakan tali cinta untuk meng¬ikat, maka ia akan berakhir dengan kekosongan atau hampa.
Hukum ketidakmelekatan, mengatur kehidupan di dunia ini mengatakan, “Supaya Anda memperoleh apa saja dalam fisik alam semesta, Anda harus berniat dan memberi perhatian yang cu¬kup pada tu¬juan Anda, bekerja keras dengan segala kemam¬puan pemberian Tuhan dan sikap mental positif, serta pada saat bersamaan - melepaskan kemelekatan pikiran Anda pada hasil¬nya dan berserah kepada Tuhan.

Berdasarkan kesadaran ini, maka bila Anda berniat memperoleh kekasih, istri/suami atau teman hidup sejati, atau mengubah hubungan dengan kekasih, istri/suami atau teman hidup, yang tadinya kurang sejati menjadi sejati, Anda harus memberi cinta kasih dan perhatian yang cukup secara berkelanjutan, serta pada saat bersamaan melepaskan kemelekatan pikiran Anda kepada hasilnya (tanpa pamrih). Cobalah Anda terapkan cara ini dengan tulus dan sabar (sekali lagi harus dengan tulus dan sabar), maka Anda akan mengalami keajaiban. Suatu hal yang ajaib akan terjadi bila tindakan Anda selalu selaras dengan hukum alam.
Setiap kebaikan pasti terdapat sedikit unsur kejahatan di da¬lam¬nya, begitu pula sebaliknya. Sebagai contoh:
Bila Anda menyumbangkan sebagian uang Anda kepada fakir mis¬kin yang terkena musibah, kecelakaan, atau yang ingin me¬nyekolahkan anak, atau untuk kelangsungan hidup mereka, maka bagi fakir miskin tersebut dan mayoritas masyarakat pada umumnya, Anda telah berbuat ke¬baikan, tapi bagi minoritas masyarakat yaitu keluarga Anda yang ku¬rang menyadari tujuan hidup mereka sebagai manusia, Anda telah ber¬buat sedikit kejahatan karena menurut mereka sum¬bangan yang Anda beri¬kan ini akan mengorbankan kemewahan hidup mereka (padahal tan¬pa mereka sadari, berkah yang sekarang mereka peroleh dari Tuhan itu berasal dari jelmaan amal kebajikan yang telah mereka lakukan pada kehi¬dupan lalu).
Bila Anda telah benar-benar mengerti hukum polaritas, dalam se¬tiap kebaikan itu pasti terdapat sedikit unsur kejahatan, setelah Anda berbuat kebaikan kepada siapa saja di dunia ini, Anda masih saja dikritik oleh sebagian orang yang bersikap negatif dan membesar-besarkan sisi negatif dari perbuatan baik Anda, maka Anda pasti akan tetap tegar dan terus melakukan kebaikan kepada semua makhluk dengan cinta kasih.
Sebaliknya, bila Anda telah benar-benar mengerti hukum po¬laritas, bahwa setiap kejahatan itu pasti terdapat sedikit unsur kebaikan di dalamnya, maka Anda akan mengerti pula bahwa orang jahat atau orang yang berniat jahat akan selalu membesar-besarkan sedikit ke¬baikan yang terkandung di dalamnya, dengan tujuan untuk menutupi kejahatan besar yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, hindarilah mereka dan pada saat yang tepat, berilah petunjuk kepada mereka ke jalan Ketu¬han¬an dengan penuh cinta kasih, agar mereka mengalami kebahagiaan sejati bersama kita.

Setiap keberuntungan pasti terdapat sedikit unsur kerugian
di dalamnya, begitu pula sebaliknya.

Mereka yang belum begitu mengerti tentang cara kerja hukum polaritas biasanya takut untung dan takut sukses. Oleh karena itu, lebih banyak orang di dunia ini yang taraf kekayaan materinya biasa atau miskin dibanding yang kaya raya dan sukses bukan? Saya tidak menga¬takan kebanyakan orang tidak ingin untung dan kaya, yang saya katakan adalah kebanyakan orang di dunia ini justru takut untung dan kaya, kare¬na setiap keuntungan dan kekayaan pasti mengandung sedikit resiko kerugian dan kegagalan di dalamnya. Bila Anda takut dan tidak bersedia membayar biaya keuntungan dan kekayaan tersebut, bagaimana mung¬kin Anda bisa memperoleh keuntungan dan kekayaan besar. Se¬bagai contoh:
Bila Anda seorang pekerja dan ingin berpenghasilan lebih besar serta fasilitas hidup yang lebih baik, tapi Anda menolak untuk dipromo¬sikan jabatannya, bagaimana mungkin Anda dapat memperoleh keun¬tung¬an itu? Cobalah periksa diri Anda, apa yang sebenarnya Anda takut¬kan? Apakah ketidakbersediaan Anda untuk dipromosikan itu karena Anda memiliki salah satu faktor seperti di bawah ini:
Apakah karena Anda takut tidak mampu dan takut dikritik bila sampai benar-benar tidak mampu, jabatan Anda diturunkan lagi?
Untuk menghilangkan rasa takut ini, perlu diketahui bahwa rasa takut dengan kreatifitas itu saling berlawanan. Bila Anda sedang takut, sinar batin Anda yang menjadi sumber pengetahuan akan digelapkan oleh rasa takut tersebut, akibatnya pikiran akan menjadi gelap atau bo¬doh. Sedangkan pada saat Anda tidak merasa takut dan emosi negatif lainnya termasuk nafsu dan ego, sinar batin Anda akan menjadi jernih dan pikiran Anda akan menjadi kreatif, serta penglihatan Anda akan menjadi luas tanpa batas.
Selanjutnya, Anda juga perlu ketahui bahwa sinar batin yang se¬nan¬tiasa ada di hati Anda itu (hati nurani Anda) adalah percikan sinar Tuhan. Ia merupakan sumber pengetahuan dan memiliki daya cipta serta kekuatan manajemen yang tidak terbatas. Sedangkan otak manusia yang disinari oleh sinar batin dinamakan pikiran. Pada saat sinar batin Anda tidak dibiaskan atau ditutupi oleh rasa takut atau emosi negatif lain dan Anda tidak ada egonya karena bekerja untuk kepentingan semua, serta Anda tidak bernafsu karena bukan Anda yang mengejar jabatan yang lebih tinggi. Tapi berdasarkan penilaian prestasi kerja dan ke¬mampuan Anda, Anda diberi kesempatan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi, maka pikiran Anda akan jernih dan menjadi jenius, ser¬ta penglihatan Anda menjadi luas tanpa batas. Bila demikian halnya apa yang harus Anda takutkan? Begitu pula, bila Anda tahu bahwa Tuhan itu Maha Adil, Pengasih, Penyayang, mengapa Anda takut? Bukankah rasa takut itu malah akan melumpuhkan Anda dan membuat pikiran men¬jadi bodoh dan munafik.Supaya Anda puas, marilah kita lihat dari sisi negatifnya, bagai¬mana bila Anda sampai benar-benar tidak mampu? Anda harus jujur dan bertanya pada diri Anda sendiri: “Sebelum saya mencobanya, bagai¬mana saya tahu kalau saya itu mampu?”
Perlu Anda ketahui bahwa orang yang sukses tidak pernah berhenti berusaha dan orang yang ber¬henti berusaha tidak pernah sukses. (Bacalah kalimat ini 3 kali setiap hari sebelum Anda berangkat ke tempat kerja, maka ia akan bekerja secara ajaib bagi kesukses¬an hidup Anda!)
Setiap kepintaran pasti terdapat sedikit unsur kebodohan di da¬lam¬nya, begitu pula sebaliknya.
Tidak ada orang yang pintar dan unggul di segala bidang. Semua orang itu adalah guru di suatu bidang dan murid dari bidang lainnya. Me¬nyadari hal ini, maka kita harus selalu:
a. Memilih spesialisasi yang sesuai dengan kepintaran atau bakat kita ma¬sing-masing dan tidak boleh ikut-ikutan orang lain, karena apa yang cocok bagi Anda. Dengan jalan pikiran dan Bioenergi, kita akan menjadi fokus dan kita dapat menjadi unggul pada bidang spesialisasi tersebut.
b. Memilih satu bidang spesialisasi yang sesuai dengan kepintaran atau bakat kita masing-masing dan tidak boleh ikut-ikutan orang lain, karena apa yang cocok bagi orang lain belum tentu cocok bagi Anda. Dengan jalan ini pikiran dan energi kita akan men¬jadi fokus dan kita akan unggul pada bidang spesialisasi ter¬sebut.
c. Bekerja secara tim (team work). Dengan bekerja tim kita dapat menyumbangkan keunggulan kita masing-masing dan saling me¬lengkapi untuk mencapai hasil yang besar dan hidup lebih baik.
d. Belajar dari keunggulan dan kegagalan orang lain, dengan jalan ini kita menjadi tetap unggul dan sukses berkelanjutan. Ada pepatah me¬nga¬takan: “Pada saat murid siap, guru akan tam¬pak.”
Bila kita mengatakan pada diri kita bahwa setiap orang yang bertemu kontak dengan kita itu adalah guru kita, maka kita dapat belajar dari mereka. Kita dapat memilih untuk mengikuti apa yang baik dan memperbaiki apa yang tidak baik. Pada saat kita melihat apa yang tidak baik pada seseorang, kita akan memantulkan tindakan kita sendiri dan meng¬ingatkan diri kita untuk tidak seperti dia. Misalnya, bila kita me¬li¬hat orang yang mudah tersinggung dan cepat marah itu tidak pantas, sering¬kali bukannya memecahkan masalah malah menimbulkan masalah baru, maka orang tersebut sebenarnya pantas untuk mendapatkan te¬rimakasih dari kita, karena ia adalah contoh hidup dari apa yang tidak seharusnya demikian. Di sisi lain, kita harus belajar dari orang bijak yang selalu me¬maparkan sisi terang dari kehidupan. Ia memiliki sikap mental po¬sitif yang membawa kenikmatan bagi orang lain dan penghargaan ke¬pada dirinya.
Bila setiap orang dengan rendah hati mau belajar dan menjadi orang bijak, bukankah hidup ini akan menjadi lebih indah dan lebih baik? Ini¬lah fundamental dari hukum polaritas yang diciptakan Tuhan untuk diikuti dan dicapai oleh setiap manusia.
e. Hukum siklus kehidupan
Segala sesuatu yang dilahirkan, baik manusia, binatang, tumbuhan maupun produk berupa barang atau jasa pelayanan akan tumbuh, berkembang, dan menjelma (mati dan dilahirkan kembali), kemudian tumbuh, berkembang, dan menjelma lagi ... Begitu seterusnya, di mana masa lalu dan masa depan saling mengikuti.
Hukum siklus kehidupan dimaksudkan Tuhan agar manusia:
1. Menyadari bahwa tidak ada yang kekal dan statis. Untuk sukses, manusia harus menyelaraskan tujuan, pikiran dan tindakannya dengan hukum ini.
2. Mempersiapkan dan melakukan pembaharuan produk (barang atau jasa pelayanan) yang dihasilkan sesuai dengan batasan umur produk.
Sebagai contoh:
1) Rancangan lingkungan perumahan dan tempat usaha harus diperbaharui sesuai siklus kehidupannya, yaitu setiap 10 ta¬hun sekali.
2) Rancangan setiap bangunan: rumah tinggal, rumah toko/kan¬tor, industri dan lain-lain harus diperbaharui sesuai siklus kehidupannya, yaitu setiap 3 tahun sekali (walaupun peru¬bahan modelnya sedikit).
3) Renovasi setiap bangunan rumah tinggal, rumah makan, ru¬mah sakit, stasiun pengisian bahan bakar/SPBU, rumah toko, kantor, hotel termasuk peralatan dan perlengkapannya ha¬rus sudah diperbaharui sesuai siklus kehidupannya, yaitu se¬tiap 12 tahun sekali.
3. Mempersiapkan dan melakukan regenerasi (generasi muda meng¬gantikan generasi tua) yang ideal dan sekaligus memberi kesempatan yang sama kepada generasi muda untuk ber¬pe¬ran aktif dan memperoleh keberhasilan di setiap bidang usaha. Begitu pula sebaliknya.

f. Hukum siklus kehidupan dan hubungan antar manusia
Ulat ditumbuh-kembangkan oleh alam menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu. Perubahan ini diatur dan merupakan bagian dari hukum siklus kehidupan. Pada setiap wujud alam yang berbeda, jenis makanannya pun berbeda. Bila ulat memakan makanan kupu-kupu berupa sari dari bunga-bungaan maka ia akan mati, begitu pula bila ulat telah berubah menjadi kupu-kupu dan memakan makanan ulat dari tanah maka ia pun akan mati pula.
Sejajar dengan ini, makanan bagi hubungan manusia pun berbeda dari satu periode ke periode berikutnya. Ambillah sebuah contoh dari hubungan pasangan suami-istri. Pada saat mereka berumur :
 40 tahun, makanan lahiriah bagi hubungan mereka pada umum¬nya akan lebih dominan daripada makanan batiniah
 50 tahun, makanan lahiriah bagi hubungan mereka pada umum¬nya akan sama dominannya dengan makanan batiniah.
 65 tahun, makanan lahiriah bagi hubungan mereka pada umum¬nya akan menjadi kurang dominan bila dibandingkan dengan makanan batiniah.

Apa yang dimaksud dengan makanan lahiriah adalah makanan yang dapat memenuhi kebutuhan lahiriah, antara lain: uang (atau apa saja yang dapat dibeli dengan uang, misalnya: makanan, pakaian, rumah, ken¬daraan dan segala sesuatu yang dapat membuat kehidupan rumah tang¬ga menjadi nyaman), seks, penampilan fisik yang ceria dan sederhana.
Apa yang dimaksud dengan makanan batiniah adalah makanan yang dapat memenuhi kebutuhan batiniah (atau roh/spiritual/iman), yaitu perwujudan dari cinta kasih dalam arti yang sesungguhnya; rasa puas, terima kasih, rasa berhutang budi (akhlak), rasa simpati, rasa maaf, toleransi, kearifan, dan kebijaksanaan, serta perkataan yang menyejukkan hati dan perbuatan amal kepada pasangan hidupnya dan semua makhluk tanpa pamrih adalah produk dari cinta kasih.
Bila Anda ingin sukses berkelanjutan dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan pasangan hidup, Anda harus berusaha memberi makanan yang cocok dengan alam pasangan hidup Anda dari waktu ke waktu secara moderat (tidak ekstrim atau berlebihan), sebab segala sesuatu yang ekstrim di dunia ini akan mengakibatkan disharmoni dan kerusakan.