PERTANYAAN-PERTANYAAN BIJAK
Bersyukurlah sejenak atas pendidikan, pelatihan, dan pengembangan yang telah Anda nikmati selama bertahun-tahun.
1.Seberapa banyak dari semua itu Anda telah belajar fakta, keterampilan-keterampilan yang sulit, pengetahuan dan teknik?
2.Seberapa banyak dari semua itu Anda telah meng¬¬gunakan pikiran, mengembangkan sikap, jiwa dan motivasi Anda?
3.Apa yang paling Anda sukai?
4.Pelatihan dan pengembangan apa yang menguntungkan Anda?
Faktor penting dalam menyadari potensi kita adalah keyakinan diri, keyakinan diri adalah kunci ajaib yang membuka pemahaman baru, mengusir keraguan dan membantu kita untuk mengambil berbagai ga¬gasan dan membawanya ke dunia fisik. Keyakinan diri bukanlah suatu jaminan bahwa kita akan sukses seperti yang kita harapkan, tetapi itu me¬nambah kesempatan kita untuk membawa diri kita menuju sukses.
Tentu Anda tidak bisa belajar menggunakan komputer dengan sekedar memiliki cara berpikir yang positif. Tanpa berbagai ke¬teram¬pilan, Anda sekedar menjadi seorang tolol yang termotivasi-dan orang-orang ini bisa berbahaya. Saat ini banyak atlet memberi banyak waktu untuk mengembangkan sikap mereka daripada mengembangkan kete¬rampilan-keterampilan teknis. Mereka membuat pikiran mereka terbuka terhadap sukses, mereka membayangkan diri mereka memenangkan per¬lombaan, medali, dan mendapatkan berbagai gelar dan kunci uta¬ma¬nya dalam pelatihan sikap adalah keyakinan diri.
Sukses Adalah 80 Persen Sikap, 20 Persen Ketrampilan
Banyak orang sekarang ini sedang mengevaluasikan ulang apa arti sebenarnya bagi kita untuk menjalani hidup yang sukses. Beberapa orang menyadari bahwa konsep mereka tentang sukses memiliki harga yang terlalu mahal. Namun dalam diri kita sekarang, ada suatu rencana untuk sukses dan kebahagiaan yang sejati, dan ini adalah tentang menjadi utuh tak tercabik-cabik.
Ada sebuah artikel menarik dalam Harvard Business Review setelah dilakukannya penelitian jangka panjang tentang faktor-faktor kebetulan dalam sukses. Penelitian ini menemukan bahwa apa yang banyak me¬nyumbang kepada sukses, anehnya bukan berbagai keterampilan, pen¬didikan, dan kualifikasi, tetapi sikap, motivasi, dan keyakinan diri. Sung¬guh, penelitian menunjukkan bahwa hanya 20% dari sukses didasarkan pada pengetahuan dan banyak hal yang kita pelajari, dan 80% didasarkan pada bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, seberapa besar kita ter¬mo¬ti¬vasi, dan apa sikap-sikap utama kita.
Jelas, kita membutuhkan kemampuan dan keterampilan dasar, tetapi bila kita sudah memilikinya, cara kita mengembangkan pikiran dan jiwa kita inilah yang membuat perbedaan pada sukses kita. Sekali lagi, bukan berbagai gelar yang melekat yang melekat pada nama kita, sertifikat yang tergantung pada dinding kita, atau berbagai pernyataan pada lembar riwayat hidup kita tetapi cinta dan keberanian di dalam hati kita, inspirasi di dalam jiwa kita, dan sikap untuk melayani serta membantu sesama manusia yang menentukan sejauh mana kita pergi dan sejauh mana kita bisa menikmati perjalanan ini.
Kekuatan Menjadi Diri Sendiri
Arief berasal dari latar belakang kelas pekerja yang keras dan telah bekerja keras untuk menjadi seorang manajer sukses di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta yang sangat sukses, tetapi ia tidak bahagia. “Saya merasa seolah-olah saya telah membentuk diri saya sendiri untuk mencoba menjadi orang yang mereka inginkan. Saya telah memberikan kekuatan saya. Bertahun-tahun saya telah memaksakan diri untuk melakukan berbagai hal yang sebenarnya tidak saya lakukan, dan tidak termotivasi untuk melakukannya, dan saya telah tumbuh menjadi orang yang tidak menyukai diri sendiri karena telah melakukan itu. Saya telah berhasil, tetapi saya telah hilang dalam proses tersebut. Saya tidak lagi mendorong diri saya sendiri untuk melakukan apa yang tidak saya hargai. Saya takut bila mereka menyadari hati saya tidak menyukainya lagi, saya kelelahan.” Arief merasa bahwa dia telah berlomba bertahun-tahun, tetapi garis finish tampak semakin jauh. Dia berbicara tentang bagaimana dia ingin menjadi kreatif, mengendalikan pekerjaan dan hidupnya sendiri, serta melakukan sesuatu yang sungguh-sungguh oleh dirinya. Dia ingin hidupnya terbuka terhadap beberapa petualangan, be¬berapa kejutan, dan inspirasi.
Pengalaman Arief mengingatkan apa yang banyak orang pikirkan tentang sukses. Dia telah menaiki tangga untuk menemukan bahwa tangga itu bersandar pada bangunan yang salah! Untuk menjadi sukses kita sering percaya bahwa kita harus membentuk dan mengubah diri kita sendiri dan kita tidak percaya bahwa kita bisa menjadi diri kita sendiri begitu saja. Kita percaya bahwa kita perlu mengorbankan apa yang kita cintai, kreatifitas kita, keluarga kita, keotentikan kita, atau keseimbangan kita dalam hidup. Tetapi seperti kita ketahui, sukses tak bersyarat adalah tentang menemukan bentuk unik dari jiwa kita dan membiarkannya membentuk hidup kita sehingga kita bisa menjadi sungguh-sungguh bahagia dan puas.
Cara membuat tujuan dan sasaran yang benar dan dilandasi kecerdasan bioenergi
Cara membuat tujuan dan sasaran yang benar adalah dengan melandasi dan menyelaraskan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dengan empat faktor, yaitu:
1) Misi kehidupan manusia.
2) Kemampuan diri dan organisasinya dalam periode pencapaian tujuan dan sasaran.
3) Situasi yang sedang dan akan berlangsung dalam periode pen¬capaian tujuan dan sasaran.
4) Hati dari orang-orang yang bekerja di dalamnya serta masya¬rakat konsumen dalam target pasar (dinamakan trend) dalam perio¬de pencapaian tujuan dan sasaran.
Barangsiapa yang membuat tujuan dan sasaran menyimpang dari empat faktor di atas maka itu sama saja dengan mencari kegagalan.
Dengan berpikir terbuka bebas seseorang dapat melihat dengan jelas situasi yang sedang dan akan berlangsung dalam periode pen¬capaian tujuan dan sasaran. Dalam kehidupan yang selalu tercemarkan oleh prasangka, nafsu, ego, dan emosi, memang sulit bagi rata-rata orang un¬tuk berpikir terbuka bebas. Agar Anda terhindar dari kesalahan dalam menetapkan tujuan dan sasaran, dan kegagalan dalam me¬wu¬jud¬kan tuju¬an Anda atau organisasi, maka Anda dapat menempuh tiga cara sebagai berikut:
1) Menggunakan “total pikiran”
2) Berkonsultasi dengan “tim inti” yang dalam hal ini bertindak sebagai pusat pemikir (atau gabungan pikiran perencana atau mas¬ter mind) untuk memastikan kebenaran.
3) Berkonsultasi dengan dua orang (atau lebih) yang memiliki peng¬¬¬lihatan dan pengetahuan metafisik/spiritual (antara lain: ahli astrologi, ahli baca muka, garis tangan, kartu petunjuk, bola kristal, daun teh atau lainnya, dan orang-orang suci yang telah mencapai ting¬katan pikiran terbuka bebas untuk memastikan kebenaran dari penglihatan dan pengetahuan “Anda dan tim inti Anda” tentang :
a. Situasi dan kondisi yang sedang dan akan berlangsung pada setiap bidang usaha.
b. Orang-orang kunci yang bekerja dan berhubungan dengan per¬¬wujudan tujuan dan sasaran tersebut dalam jangka waktu ter¬tentu.
Setelah Anda menempuh tiga cara tersebut, Anda harus kembali ke hati nurani Anda masing-masing tentang kebenarannya. Bila hati Anda dan mayoritas dari anggota “tim inti” Anda merasa nyaman, itulah keputusan yang benar dan Anda bersama inti dapat menetapkan tujuan serta sasaran-sasaran dari setiap bidang usaha Anda atau orga¬nisasi secara konsensus.
Sebaliknya, bila hati Anda dan mayoritas dari “tim inti”tidak nyaman, maka sebaiknya jangan diburu-buru oleh keadaan apa pun ke dalam suatu tindakan yang ceroboh, karena waktu yang dibutuhkan un¬tuk memperbaiki kesalahan yang dibuat akan memakan waktu relatif lama dibanding Anda musti mengulang cara 1,2,3 dan seluruh proses tersebut di atas untuk memastikan kebenarannya sebelum Anda ber¬tindak.
Bagaimana cara memperkuat “Tujuan dan Sasaran Anda” yang telah ditetapkan agar pikiran Anda tidak mudah tergoyahkan oleh situasi dan kondisi yang untuk sementara waktu kurang mendukung, kurang menguntungkan Anda dan mencemaskan serta menakutkan pikiran Anda? Begitu pula agar pikiran Anda tidak akan dapat dibiaskan oleh pandangan-pandangan luar yang tidak sejalan dengan tujuan dan sasaran Anda?
Caranya adalah dengan membaca dalam hati secara berulang kali setiap tujuan dan sasaran yang telah Anda tetapkan tersebut setiap hari sam¬pai Anda mempunyai bayangan yang utuh bahwa apa yang Anda tuju itu seolah-olah telah Anda peroleh, serta sampai mereka menyatu dengan alam sadar dan bahwa sadar pikiran Anda. Dengan jalan ini, Anda akan memperoleh energi yang Anda butuhkan dan pikiran tidak dapat tergoyahkan oleh situasi dan kondisi yang untuk sementara waktu kurang mendukung, kurang menguntungkan, mencemaskan, dan menakutkan pikiran Anda. Begitu pula pikiran Anda tidak akan dapat dibiaskan oleh pandangan-pandangan luar yang tidak sejalan dengan tujuan dan sasaran Anda itu. Percayalah bahwa:
1) Dunia akan membuka jalan bagi siapa saja yang tahu mau ke mana.
2) Apa saja yang dapat dibayangkan dan dipercaya oleh pikiran manusia, pasti dapat dicapai dengan sikap mental positif tanpa mengambil hak orang lain.
3) Di depan perjalanan Anda terdapat sukses untuk memperoleh hasil.
Dalam menindaklanjuti tujuan dan sasaran, Anda hendaknya me¬ngerti dua kualitas yang menjadi sifat dari kesadaran Anda, yaitu niat dan perhatian. Niat menghasilkan energi dan perhatian menjelmakan energi. Banyak orang yang yang gagal mencapai tujuan dan sasarannya di dunia ini karena mereka hanya berniat, tapi kurang memberi perhatian yang cukup pada tujuan dan sasaran mereka atau sebaliknya. Mengapa? Sebab dengan hanya berniat saja tapi tanpa memberi perhatian yang cu¬kup terhadap tujuan dan sasarannya, ia tidak memanfaatkan se¬penuhnya energi yang ada dalam tubuh dan pikirannya untuk diwujudkan ke dalam bentuk fisik.
Begitu pula dengan hanya memberi perhatian berkelanjutan tapi kurang berniat untuk mewujudkan tujuan dan sasarannya, maka ia akan ke¬kurangan energi untuk mewujudkan tujuan dan sasarannya tersebut.
Untuk menindaklanjuti tujuan dan sasaran serta berhasil, kita harus sungguh-sungguh berniat dan memberi perhatian secara berkelanjutan pada tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Penjelasannya, setiap energi dan informasi yang masuk, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, akan diterima oleh indera Anda. Energi dan informasi yang datang dari luar akan diterima oleh “otak sadar” melalui panca indra, yaitu telinga, mata, hidung, kulit, dan lidah; sedangkan energi dan informasi yang datang dari dalam akan diterima oleh “otak bawah sadar” melalui indra keenam, yaitu intuisi.
Bila Anda memberi niat yang sungguh-sungguh pada tujuan dan sasaran Anda, maka otak Anda akan menyerap energi semesta, sehingga pikiran Anda akan jadi kuat untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang jalan yang harus Anda tempuh untuk mewujudkan tujuan dan sasaran Anda ke dalam bentuk fisiknya. Begitu pula, Anda akan mampu menarik orang-orang yang energinya sejenis untuk membantu Anda mewujudkan tujuan dan sasaran Anda ke dalam wujud fisiknya. Bila Anda tidak memberi niat yang sungguh-sungguh pada tujuan dan sasaran Anda, maka pikiran Anda akan melemah dan jalan untuk mewujudkan tujuan Anda ke dalam wujud fisiknya menjadi terpecah-pecah dan gelap, serta tujuan dan sasaran Anda akan hilang. Selanjutnya, bila Anda mem¬beri “perhatian” (fokus) pada tujuan dan sasaran Anda secara ber¬kelanjutan, maka pikiran Anda akan bekerja lebih cepat dan produktif untuk menjelmakan tujuan dan sasaran Anda ke dalam bentuk fisiknya.
Keberhasilan setiap manusia dalam mewujudkan tujuan dan sasaran hanyalah sebagai “perjalanan” yang mengarah kepada per¬wu¬judan misi kehidupannya sebagai manusia di dunia ini, yaitu: mengalami hidup lebih baik, sekarang maupun di akhirat nanti setelah ma¬ti. Atas dasar pengertian, maka pada saat Anda telah berhasil mencapai sasaran Anda, Anda harus segera membuat dan atau me¬laksanakan sasaran-sasaran baru Anda untuk mewujudkan tujuan Anda. Begitu pula se¬terusnya bila Anda ingin mengalami hidup lebih baik dari waktu ke wak¬tu dan memiliki berkah yang cukup besar untuk pulang ke rumah Anda di alam abadi setelah Anda mati.
Ciri-ciri dari orang yang berpikir terbuka bebas menurut kecerdasan bioenergi
Ciri-ciri dari orang yang berpikir terbuka bebas dan menemukan alam sejatinya adalah sebagai berikut:
1) Penampilan sederhana dan tenang
2) Budi bahasanya halus dan menyejukkan hati, serta dapat mem¬pe¬nga¬ruhi jalan pikiran orang.
3) Saat berhubungan dengannya banyak ditemukan kemudahan da¬lam kehidupan.
4) Rendah hati dan fleksibel bagaikan sifat air, serta cepat beradaptasi terhadap perubahan situasi.
5) Selalu mensyukuri hidup, mudah memaafkan, mudah memberi to¬le¬ransi dan arif kepada siapa saja.
6) Selalu merespon terhadap being by no-being (keberadaan dengan ketidakberadaan).
7) Tenteram, luas dan jauh tanpa batas pandangannya.
Secara alami seseorang tidak dapat mengharapkan manusia mele¬nyapkan moral suka dan tidak suka, karena ini merupakan bawaan lahir dari kehidupan masa lalu. Seseorang juga tidak dapat melenyapkan per¬be¬daan di antara manusia sebagai produk dari perbedaan dalam pen¬didikan, pengalaman dan latar belakang kebudayaan serta tingkatan spiritual.
Manusia berhak merayakan apa yang membuatnya unik, akan tetapi ia tidak boleh menjadi budak dari kebiasaan tingkah lakunya sen¬diri, idaman atau pengalamannya. Bagi rata-rata orang hal itu tentu saja sulit dilakukan. Oleh karena itu, kita harus mencoba untuk berpikir ter¬buka bebas pada setiap aspek kehidupan kita sehari-hari.
Kebijaksanaan dan aspirasi para karyawan dan masyarakat tidak akan sampai kepada pimpinan yang yakin bahwa posisinya menem¬pat¬kan dirinya di atas kebutuhan untuk mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain. Pimpinan seperti ini tidak akan mendengarkan siapa pun, kecuali dirinya sendiri. Ia dilumpuhkan oleh sikapnya yang negatif dan ketergantungannya pada pengetahuan dan informasi yang terbatas. Bila demikian halnya, divisi manajemen di bawah kepemim¬pinannya pasti akan gagal.
Sebagaimana manusia hidup hanya dalam tiga dimensi keempat, yaitu waktu, sehingga otak manusia pada suatu wakatu hanya dapat me¬nerima, memroses dan memberi respon terhadap satu informasi dan rangsangan saja. Jadi, untuk memperoleh hasil yang optimum dari pikiran, seseorang harus menyusun prioritas menurut urutan urgensi dan kepentingannya.
Sinar matahari menerangi bumi pada pagi dan siang hari, sinar bulan menerangi bumi pada malam hari. Akan tetapi sinar batin (alam sejati) menerangi pikiran manusia yang telah terbuka bebas pada pagi, siang dan malam hari.
Pada saat tidak ada nafsu, egoisme, emosi, dan prasangka yang menutupi dan membebani pikiran dan roh, seseorang akan mengalami kejelasan dan keluasaan tanpa batas. Orang yang sedang berpikir terbuka bebas akan memperlakukan segala sesuatu dengan tenang. Orang yang pandai bicara tidak dapat mengubah pendiriannya. Orang cantik tidak dapat memengaruhinya. Orang yang pintar tidak dapat menggerakkan hatinya. Para penguasa tidak dapat menakut-nakutinya, tapi ketika ditekan, ia dapat terus bergerak maju dengan gaib sejalan dengan evo¬lusi kehidupan. Ini adalah kebebasan dari orang yang sedang berpikir ter¬buka bebas dan telah menemukan serta menyatu dengan alam se¬jati¬nya.
Bioenergi Sebagai Pola Hukum Alam
Setiap makhluk yang telah terlahir di dalam suatu ruang kehi¬dup¬an, harus mengikuti hukum Tuhan yang berlaku dalam ruang kehidupan tersebut. Dengan demi¬kian, setiap manusia yang ingin se¬lalu berada di jalan kesuksesan, tan¬pa kecuali harus mengikuti dan me¬nerapkan hukum Tuhan atau hukum alam yang berlaku di ruang atau alam kehidupan manusia dalam men¬jalankan kehidupan sehari-hari.
Terdapat berbagai jenis hu¬kum alam yang mengatur kehi¬dupan di alam kehidupan manusia, lima di antaranya merupakan acuan dari jalan kesuksesan hidup yang jarang diajarkan di sekolah-sekolah, dengan demikian perlu saya jelaskan secara rinci dan sistematis pada setiap bagian buku ini agar mudah dimengerti dan diterapkan dalam menempuh jalan kekayaan hidup. Kelima hukum alam yang saya maksud adalah :
a. Hukum sebab-akibat
Dalam kehidupan ini, bila kita tanam padi, proses pembuahannya hanya membutuhkan waktu enam bulan, sedangkan bila kita menanam pohon cabai, proses pembuahannya membutuhkan waktu 3 bulan.
Sejajar dengan ini, pada saat kita menanamkan kebaikan besar, proses pembuahannya tentu saja membutuhkan waktu relatif lebih lama daripada menanam kebaikan kecil. Jadi, kebaikan apa pun yang kita tanamkan dalam hidup ini akan membutuhkan waktu untuk membuahkan hasilnya dan dengan demikian kita harus belajar bersabar. Pada saat Anda sedang tidak sabar, usaplah dada Anda perlahan-lahan sambil menelan air ludah, dan katakan dalam hati; “Sabar, sabar, sabar ... ” Dengan jalan ini nafsu dan emosi Anda perlahan-lahan akan menjadi reda dan akan menjadi sabar kembali.
Bagi mereka yang tidak sabar, seringkali mengorek-ngorek benih-benih kebaikan yang telah ia tanamkan sebelumnya. Dan hal itu justru akan membuat benih-benih tersebut tidak berbuah. Sebaliknya, bagi mereka yang telah berbuat dosa, saya sarankan sebaiknya untuk bertobat dan harus sering mengorek-ngorek benih dosanya tersebut serta me¬mohon ampun dosa kepada Tuhan agar benih-benih tersebut tidak ber¬buah.
Berdasarkan hukum sebab-akibat, bila kita ingin memperoleh:
1) Cinta Sejati ; kita harus memberi cinta sejati terlebih dahulu kepada orang lain.
2) Persahabatan ; kita harus memberi persahabatan terlebih dahulu kepada orang lain.
3) Kebahagiaan ; kita harus memberi kebahagiaan terlebih dahulu ke¬pada orang lain.
4) Kekayaan ; kita harus memperkaya orang lain terlebih dahulu; di dunia ini, tidak ada seorang pun yang dapat menjadi kaya apa¬bila dirinya tidak memperkaya orang lain. (Cara terbaik memperkaya orang lain adalah menyadarkan mereka tentang harta dan potensi yang mereka miliki dan memberi petunjuk jalan agar mereka berhasil meng¬embangkan kekayaan lahir dan batinnya secara seimbang).
Begitu pula seterusnya, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik atau dengan kata lain, setiap tindakan (sebab) kita akan meng¬akibatkan Bioenergi kembali kepada diri kita sendiri. Neraca alam semesta begitu sempurnanya, sehingga Nabi Muhammad SAW ber¬sabda, “Ti¬dak ada hutang yang tidak harus dibayar dan tidak ada amal ke¬ba¬jikan yang tidak diperhitungkan.”
Orang dapat hidup kaya, terkenal dan berpengaruh dalam ke¬hidupannya sekarang ini disebabkan oleh setidaknya 3 kali di masa lalunya telah banyak berbuat amal kebajikan. Sedangkan kejahatan yang ia tanamkan pada kehidupan sekarang ini baru akan ia petik nanti pada saat¬nya tiba, karena alam membutuhkan waktu untuk memroses pem¬buahannya.
Di dunia kehidupan manusia, banyak orang yang telah dekat dengan surga atau alam abadi, tapi dalam perjalanannya, karena tidak mampu mengendalikan prasangka buruk, nafsu, egoisme dan emosi negatifnya (antara lain: marah, benci, dendam, iri hati dan cemburu, khususnya serakah) membuat mereka menyimpang dari misi ke¬hidup¬annya semula sebagai manusia, sehingga sedikit dari mereka yang masuk ke surga atau ke alam abadi dan mengalami kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan abadi.
Kepada mereka patut kita sayangkan dan kasihani. Untuk itu marilah kita segarkan ingatan mereka dan dengan segala kerendahan hati memberi petunjuk kepada mereka untuk mengikuti hati nurani mereka masing-masing. Dalam keadaan pikirannya sedang tercemar oleh prasangka buruk, nafsu, egoisme dan emosi negatifnya, kita beri petunjuk agar mereka berpedoman dan menerapkan falsafah (prinsip-prinsip kehidupan yang selaras dengan hukum alam) yang dituangkan dalam buku ini, atau ajaran agama mereka menurut kepercayaan masing-masing, sehingga mereka selalu berada di jalan kekayaan hidup dan men¬capai keabadian, serta mengalami kedamaian, kesejahteraan dan ke¬bahagiaan abadi.
Kepada orang baik yang hidupnya miskin dan sering terkena musibah, marilah kita beri semangat dan yakini bahwa berdasarkan hukum sebab-akibat, perbuatan baik mereka akan membuat hidup mereka lebih baik di kemudian hari dan mereka sedang berada di jalan kesuksesan hidup menuju keabadian. Pada saat bersamaan bila mereka perlukan, bantulah meringankan penderitaan mereka dengan penuh cinta-kasih.
Dengan menghubungkan antara kejadian (akibat) dengan sebab¬nya, maka segala sesuatu di dunia ini dapat kita atasi dengan mudah dan tuntas. (Bacalah kalimat ini setiap hari sekali sampai terekam dalam ingatan Anda)
Kebanyakan orang di dunia ini hanya berusaha menyelesaikan setiap masalah (akibat) yang timbul tanpa adanya upaya yang cukup untuk menelusuri dan mencari sebabnya. Bila demikian halnya, maka masalah yang ditangani akan menjadi berlarut-larut dan tidak dapat diselesaikan secara tuntas. Tapi, bila ia mencari dan mengatasi sebabnya dari suatu masalah yang timbul, maka masalah yang ia hadapi berangsur-angsur akan selesai secara tuntas.
Ketidaktahuan tentang hukum sebab-akibat mengharuskan manusia pada umumnya untuk mengeluarkan jumlah waktu, tenaga, pikiran dan uang yang relatif lebih besar untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul secara silih berganti sepanjang hidupnya.
Kesadaran tentang hukum sebab-akibat akan mendorong manusia untuk menghapus setiap penyebab dari masalah sebelum terjadi. Dengan jalan ini pengeluaran waktu, tenaga, pikiran, dan uang akan menjadi relatif jauh lebih efisien daripada menyelesaikan masalah setelah terjadi. Sebagai contoh, bila setiap manusia menyadari bahwa:
1) Kemalasan, bermabuk-mabukan, main perempuan/pria atau main judi adalah kenikmatan sementara dan sebagai penyebab dari kerusakan dan penderitaan hidup (akibat), maka dengan menghindari 4 hal tersebut berarti ia telah menghapus penyebab dari kerusakan dan penderitaan hidup.
2) Merokok atau memakan daging hewan itu adalah penyebab dari berbagai penyakit yang mematikan (akibat), antara lain: penyakit jantung, kanker dan stroke, maka dengan tidak merokok dan tidak memakan daging hewan (vegetarian), berarti ia telah menghapus penyebab dari berbagai penyakit, kematian dini dan penderitaan.
3) Memperoleh kekayaan dan kedudukan secara tidak halal adalah penyebab dari berbagai masalah dan kehancuran (akibat), maka dengan menghindari peroleh kekayaan dan kedudukan secara tidak halal berarti ia telah menghapus penyebab dari berbagai masalah dan kehancuran.
Kelahiran manusia disebabkan oleh dua faktor:
1) Secara fisik (lahiriah) disebabkan oleh ayah dan ibunya.
2) Secara rohani (batiniah) disebabkan oleh adanya dosa-dosa yang perlu ia lunaskan pertobatannya sebagai manusia dan me¬ngum¬pulkan kekayaan yang cukup dengan berbuat kebaikan secara berkelanjutan agar memungkinkan mereka pulang ke rumahnya di alam abadi.
Secara fisik keberadaan (kelahiran) manusia disebabkan oleh ayah dan ibunya. Bila manusia menyadari bahwa keberadaannya di dunia ini disebabkan oleh ayah dan ibu (orangtua)-nya, tubuh dan darah da¬ging¬nya berasal dari ayah dan ibunya, maka cinta kasih dan akhlak (budi luhur) yang pertama harus ia baktikan adalah kepada orang tuanya. Bi¬la ia selalu menyayangi, memberi perhatian, berbuat kebaikan dan menempatkan kepentingan orang tuanya di atas kepentingan pribadinya secara tulus, maka ia bukan saja akan menggugah nanti nurani semesta (alam seisinya), tapi Tuhan pun akan memberi berkah yang berlimpah ke¬padanya.
Seperti pepatah kuno mengatakan: “Surga ada di telapak kaki orang tua kita.” Artinya bila kita dapat dijadikan sebagai tempat berpijak atau tum¬puan hidup bagi orang tua kita, maka kita akan menjalani hidup di bumi ini bagaikan di surga.
Sejarah telah membuktikan, mereka yang benar-benar selalu mencintai, berbudi, berbuat kebaikan, menempatkan kepentingan orangtua di atas kepentingannya sendiri dan menjadikan dirinya sebagai tumpuan hidup (tempat berpijak) orangtuanya maka jalan hidupnya selalu terang, lancar dan banyak berkahnya. Sedangkan mereka yang bia¬¬sa-biasa saja terhadap orang tuanya jalan hidupnya pun biasa-biasa saja. Dan mereka yang kualat (berucap kasar, berbuat kasar, meng¬acuhkan dan menyepelekan kepentingan orang tuanya atau salah satu dari itu) maka jalan hidupnya gelap, berliku-liku, banyak masalah dan tanpa ia sadari sebabnya, ada di antara anak-anaknya yang nantinya juga akan ada yang sama kualat kepadanya dan membuat hidupnya men¬derita.
Apa pun (sekali lagi apa pun) kesalahan yang diperbuat oleh orang tuanya, ia harus dapat memaafkan mereka dan tetap mencintai serta men¬junjung tinggi mereka dengan tulus. Mengapa? Sebab sebagai ma¬nusia, ia pun tidak sempurna dan tidak luput dari kesalahan, tanpa ia sadari suatu saat ia juga dapat berbuat kesalahan dan membutuhkan maaf dari orang lain.
b. Hukum kelipatan timbal balik
Hukum kelipatan timbal balik menjamin adanya kelangsungan hidup dan keberlimpahan. Baik atau buruknya keberlimpahan tersebut sama dengan kebaikan atau keburukan yang ditanam sebelumnya, yang diatur menurut hukum sebab-akibat.
Dengan adanya hukum kelipatan timbal-balik yang mengatur kehidupan di bumi ini, walaupun jumlah populasi dunia semakin hari semakin bertambah banyak, tapi jumlah makanan yang dihasilkan secara keseluruhan selalu mencukupi dan berlimpah.
Hukum kelipatan timbal-balik yang merupakan bagian dari hukum alam juga menjamin bahwa: seorang pelajar yang telah menguasai satu bidang speasialisasinya, akan dapat menguasai juga bidang-bidang lain dengan menerapkan prinsip-prinsip yang sama.
Maksud merupakan prinsip yang sama di sini jangan disamakan dengan menerapkan cara yang sama! Sebab dalam kehidupan ini, benar atau salah itu adalah situasional. Artinya, suatu cara yang benar pada situasi itu belum tentu benar jika situasinya berlainan. Dengan demikian janganlah sekali-kali kita menyamakan arti dari prinsip dengan cara. Prinsip di sini maksudnya adalah prinsip-prinsip yang selaras dengan hukum alam dan dinamakan falsafah atau filsafat.
Tidak ada yang statis di dunia ini, tubuh kita mengalami pertukar¬an yang konstan dengan tubuh alam semesta; pikiran kita berinteraksi secara dinamis dengan pikiran kosmik; Bioenergi adalah penyaluran dari energi kosmik.
Arus kehidupan tidak lain merupakan interaksi yang harmonis anta¬ra semua elemen dan kekuatan yang membentuk bidang dari keberada¬an. Interaksi yang harmonis dari elemen-elemen dan kekuatan-kekuatan dalam kehidupan kita ini beroperasi menurut hukum pemberian dan pene¬rimaan.
Karena tubuh dan pikiran kita, serta alam semesta ini dalam pertu¬kar¬an yang konstan dan dinamis, maka menghentikan sirkulasi energi sama saja dengan menghentikan arus darah. Bila darah berhenti meng¬alir, ia mulai mengental, membeku, dan menggenang. Itulah sebabnya kita harus memberi dan menerima agar menjadi kaya, makmur, dan te¬rus sejahtera - atau apa saja yang kita inginkan dalam hidup.
Uang merupakan energi hidup. Karena itu, bila kita menghentikan sirkulasi uang, atau bila kita hanya berusaha menahan uang kita dan menimbunnya, serta tidak disirkulasikan melalui sistem, seperti sistem perekonomian, perdagangan dan investasi, perbankan dan fiskal, maka kita sama saja menghentikan sirkulasi baliknya ke dalam hidup kita.
Cara mensirkulasikan uang yang kita peroleh secara konstruktif dan berkesinambungan adalah sebagai berikut:
1) Untuk meningkatkan kesejahteraan umum masyarakat melalui dunia usa¬ha menurut sistem pasar, perekonomian, investasi, dan perdaga¬ngan bebas.
2) Untuk membantu atau menyenangkan orang tua.
3) Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.
4) Untuk mencukupi kebutuhan pendidikan anak-anak.
5) Untuk menolong orang-orang yang sedang terkena musibah dan ku¬rang mampu.
6) Untuk mencukupi kebutuhan pribadi hidup kita masing-masing secara seimbang dan sederhana.
Kita hendaknya dapat mengelola uang secara benar dan mem¬pekerjakan uang, serta bukan sebaliknya diperbudak oleh uang dan melupakan kesehatan dan peningkatan kualitas hidup kita demi mem¬peroleh tambahan dan atau mempertahankan uang semata.
Setiap hubungan di dunia ini dan kelangsungannya dilandasi oleh hukum pemberian dan penerimaan. Apakah hubungan antar manusia, antar manusia dengan hewan dan makhluk lain, semua kelangsungan hubungan dilandasi oleh hukum pemberian dan penerimaan, semakin sering dan banyak pemberian dan penerimaan, secara alami akan sema¬kin erat hubungan tersebut.
Pemberian menyebabkan penerimaan dan penerimaan menye¬babkan pemberian. Apa yang ke luar pasti masuk kembali, apa yang turun pasti naik kembali, dan begitulah seterusnya. Dalam kehidupan ini, semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita menerima, walau tidak kita maksudkan imbalannya.
Dengan semakin banyak kita memberi, berarti kita sedang menerima keadaan yang berlimpah-limpah dari sirkulasi alam semesta ke dalam hidup kita. Sebenarnya, apa saja yang bernilai dalam hidup ini hanya berlipatganda pada saat diberikan. Apa yang tidak berlipat ganda melalui pemberian adalah karena tidak sepantasnya pemberian maupun penerimaan. Kalau saja melalui tindakan pemberian, Anda merasa kehilangan sesuatu, maka pemberian itu bukanlah pemberian sebenarnya dan tidak akan menyebabkan penambahan. Kalau saja Anda memberi dengan menggerutu, maka tidak ada energi di balik pem¬be¬rian itu.
Niat di belakang setiap pemberian dan penerimaan itulah yang ter¬penting. Niat itu harus selalu untuk menciptakan kebahagiaan bagi pemberi maupun penerima. Sebab kebahagiaan itu merupakan penun¬jang dan penerus kehidupan yang menghasilkan penambahan. Pengem¬balian akan berbanding langsung dengan pemberian pada saat pem¬berian itu tanpa kondisi dan berasal dari hati kita. Bila penambahan ener¬¬gi di belakang pemberian itu ingin berlipat ganda secara alamiah, tin¬dakan pemberian haruslah selalu membahagiakan, baik kepada si pem¬¬beri maupun kepada si penerima.
Menerapkan hukum kelipatan balik atau hukum pemberian dan penerimaan ini sebenarnya sederhana sekali. Bila Anda menginginkan kelipatan cinta kasih, berilah cinta kasih kepada orang lain; bila Anda menginginkan kelipatan kenikmatan, perhatian dan penghargaan dengan tulus tanpa pamrih kepada orang lain, berilah perhatian dan penghargaan pada orang lain; bila Anda menginginkan kekayaan materi, berilah per¬tolongan dengan tulus tanpa pamrih kepada orang untuk memperoleh ke¬kayaan materi. Sebenarnya, cara termudah untuk memperoleh ke¬li¬patan dari apa yang Anda inginkan dari alam adalah dengan menolong orang memperoleh apa yang mereka inginkan dengan tulus tanpa pa¬mrih. Dengan begitu, Anda akan memperoleh kelipatan dari apa yang An¬da inginkan.
Prinsip ini bekerja sama baiknya untuk para individu, perusahaan, masyarakat, maupun bangsa. Bila Anda ingin diberkati dengan semua hal yang baik dalam hidup, belajarlah dengan diam-diam untuk member¬kati semua orang dengan semua hal yang baik.
Pikiran untuk memberi, pikiran untuk memberkati dan do’a yang sederhana sekalipun memiliki kekuatan untuk memengaruhi orang lain. Ini disebabkan oleh turunnya tubuh kita ke tingkat sifat dasarnya yang berupa penjelmaan dari energi dan informasi dalam suatu energi dan in¬for¬masi alam semesta.
Jalan yang terbaik untuk menerapkan hukum pemberian dan pene¬rimaan, serta memulai keseluruhan proses dari sirkulasi adalah mem¬buat keputusan bahwa setiap Anda bertemu dengan siapa saja, be¬rilah me¬reka sesuatu. Tidak perlu dalam bentuk materi; bisa saja berupa nasihat baik, suatu pujian atau do’a. Sebenarnya, jenis terkuat dari pem¬berian bukanlah berupa materi. Pemberian berupa do’a, ke¬pedulian, per¬hatian, penghargaan, kasih sayang dan cinta kasih me¬rupakan pemberian yang amat berharga, dan itu semua tidak mem¬bebani Anda dengan ber¬bagai biaya apa pun.
Ke mana pun Anda pergi, buatlah keputusan untuk “memberi” kepada siapa saja Anda bertemu. Selama Anda “memberi” Anda akan “menerima”. Semakin banyak Anda memberi, Anda akan semakin percaya diri memperoleh pengaruh ajaib dari hukum ini.
Energi alam sejati (Bioenergi) adalah suatu kemakmuran dan ke¬berlimpahan; secara alami kita makmur karena alam selalu menunjang se¬tiap kebutuhan dan keinginan manusia. Kita tidak kekurangan apa-apa, karena Bioenergi merupakan segala bidang kemampuan dan ke¬mung¬kinan yang tidak terbatas. Dengan demikian, kita harus menge¬ta¬hui bahwa kita sudah ditanami dengan kemakmuran, tidak masalah seberapa banyak atau sedikit uang yang kita miliki. Karena sumber se¬luruh kekayaan adalah tranformasi dari Bioenergi. Bioenergi yang mengetahui bagaimana memenuhi kebutuhan, kemakmuran termasuk kenikmatan, cinta kasih, gelak tawa, kedamaian, keharmonisan, dan penge¬tahuan. Bila kita mencari semua itu bukan untuk diri kita terlebih da¬¬hulu, tapi untuk orang lain, maka semuanya akan datang kepada kita se¬cara spontan.
c. Hukum ketidakmelekatan
Supaya kita memperoleh apa saja dalam fisik alam semesta, kita harus berniat dan memberi perhatian (fokus) yang cukup pada tujuan kita, serta pada saat yang bersamaan melepaskan kemelekatan kita pada hasilnya.
Bioenergi selalu mengikuti pikiran, dan hati manusia dapat menyerap, menyimpan dan menjelmakan energi ke dalam fisik alam semesta berupa kekayaan materi, antara lain: kesehatan, uang, makanan, pakaian, rumah, mobil, perhiasan, bisnis, jabatan, kekuasaan dan keka¬yaan materi lainnya. Inilah sebabnya apa saja yang dapat dibayangkan dan di percaya oleh pikiran manusia, pasti dapat dicapai dengan sikap mental positif tanpa mengambil hak orang lain.
Dengan keyakinan yang kita punya secara otomatis Bioenergi bekerja dalam tubuh kita untuk mendapatkan kekayaan dalam fisik alam semesta.
sua¬tu wilayah. Itu akan menciptakan kegelisahan; itu akan berakhir dengan membuat manusia merasa kosong dan hampa di dalam kehi¬dup¬¬an¬nya, karena ia menukar kekayaan batinnya dengan simbolnya sen¬diri.
Pada umumnya, manusia secara konstan mencari rasa aman dan ia akan menemukan bahwa mencari rasa aman hanyalah suatu ilusi. Ke¬banyakan orang mencari uang untuk tujuan rasa aman, dengan demi¬kian boleh kita katakan bahwa kemelekatan dengan uang adalah suatu pertanda dari rasa tidak aman. Ia mungkin mengatakan, bila ia sudah me¬¬miliki sekian miliar dolar, maka ia akan merasa aman. Kemudian ia akan mandiri secara keuangan dan ia akan pensiun. Kemudian ia akan menger¬jakan segala hal yang ia benar-benar ingin kerjakan. Tapi itu ti¬¬dak pernah terjadi dan pasti tidak akan pernah terjadi.
Mereka yang mengejar rasa aman akan mengejarnya sampai seumur hidup tanpa pernah menemukannya. Ia tetap sukar diperoleh karena rasa aman tidak datang dari uang. Kemelekatan terhadap uang akan selalu menciptakan rasa tidak aman berapa pun besarnya uang yang akan mereka miliki. Sebenarnya, sebagian besar dari mereka yang memiliki uang terbanyak itulah yang merasa paling tidak aman. Jadi, selama mereka masih ada kemelekatan, baik dengan uang atau apa saja, maka mereka selamanya tidak pernah menemukan rasa aman dalam dirinya.
Kemelekatan itu datangnya dari kesadaran kemiskinan, karena kemelekatan itu selalu merupakan suatu simbol saja. Sedangkan ke¬ti¬dakmelekatan sama artinya dengan kesadaran kekayaan, karena dari ke¬tidakmelekatan terdapat kebebasan dan kekuatan untuk menciptakan. Hanya dengan ketidakmelekatan inilah seseorang dapat memiliki kekayaan materi, kenikmatan, dan kebahagiaan hidup yang sejati.
d. Hukum polaritas
Dalam kehidupan manusia, alam selalu dibagi menjadi dua bagian yang berlawanan jenis. Setiap jenis alam pasti terdapat sedikit jenis alam berlawanan di dalamnya. Keberadaan mereka adalah untuk saling melengkapi dalam melangsungkan perbaikan hidup dan bukan untuk saling menekan, merusak atau melenyapkan.
Karena alam selalu dibagi menjadi dua bagian yang berlawanan jenis, maka di dunia ini :
Ada siang dan malam.
Ada pria dan wanita.
Ada kebaikan dan kejahatan.
Ada kebahagiaan dan penderitaan.
Ada keuntungan dan kerugian.
Ada kehidupan dan kematian.
Karena setiap jenis alam pasti terdapat sedikit jenis atau unsur alam berlawanan di dalamnya, maka:
1) Setiap pria pasti terdapat sedikit unsur wanita di dalamnya, begitu pula sebaliknya.
2) Setiap kebaikan pasti terdapat sedikit unsur kejahatan di dalamnya, begitu pula sebaliknya.
3) Setiap keberuntungan pasti terdapat sedikit unsur kerugian di dalamnya, begitu pula sebaliknya.
4) Setiap kepintaran pasti terdapat sedikit unsur kebodohan di dalamnya, begitu pula sebaliknya.
5) Setiap kebahagiaan pasti terdapat sedikit unsur penderitaan di dalamnya, begitu pula sebaliknya.
6) Di setiap kehidupan pasti terdapat unsur kematian, begitu pula sebaliknya.
Setiap pria pasti terdapat sedikit unsur wanita di dalamnya, begitu pu¬la sebaliknya. Menyadari akan hal ini dan juga manusia adalah produk dari lingkungannya, maka adalah penting bagi seorang anak kecil dengan jenis kelamin pria misalnya, semasa pertumbuhannya tidak ditempatkan di lingkungan wanita. Dengan jalan ini unsur wanita yang terkandung di dalam dirinya tidak akan tumbuh menjadi lebih besar dan dominan dari¬pada unsur prianya, sehingga membuat dirinya kebanci-bancian. Akan lebih serasi tentunya, bila tubuh fisiknya pria, alam pria di dalam tubuh fisiknya yang lebih dominan daripada alam wanitanya.
Menciptakan hubungan harmonis antara pria dengan wanita untuk hidup yang lebih baik. Bila setiap pria di dunia ini dapat memanfaatkan pemberian Tuhan berupa sedikit unsur wanita yang ada di dalamnya untuk mencoba mengerti dan memenuhi kebutuhan dan selera setiap wanita, begitu pula bila setiap wanita di dunia ini dapat memanfaatkan pemberian Tuhan berupa sedikit unsur pria yang ada di dalamnya untuk mencoba mengerti dan memenuhi kebutuhan dan selera setiap pria, ma¬ka hubungan antara pria dan wanita di dunia ini pasti akan selalu har¬¬monis.
Pada saat hubungan antara pria dan wanita itu terjalin, mereka akan terus saling melengkapi untuk mencukupi kebutuhannya masing-ma¬sing dan memperbaiki kualitas hidupnya. Pada saat kehar¬mo¬nisan hi¬lang, mereka akan menjadi ganas, yang kuat menekan yang le¬mah, ke¬mudian akan saling merusak. Karena tindakan mereka bertentangan dengan maksud dan tujuan Tuhan yang dinyatakan dalam hu¬kum pola¬ritas, maka kehidupan mereka di dunia ini akan men¬jadi sir¬¬na.
Apa yang menyebabkan hubungan pria dan wanita tidak harmonis adalah ketidakpedulian pria maupun wanita untuk mengendalikan egonya atau sang akunya dan membiarkan diri mereka menjadi budak dari nafsu dan emosinya.
Pada saat manusia (pria maupun wanita) membiarkan egonya tum¬buh liar dan bahkan berusaha memuaskan egonya, maka ia dapat dika¬te¬gorikan sebagai orang yang egois, dan orang yang egois cenderung akan menjadi serakah. Serakah itu ada macam-macam jenisnya, ada yang serakah untuk mendapatkan cinta, perhatian dan waktu dari lawan je¬nisnya, dan ada juga yang berkembang menjadi serakah untuk men¬da¬patkan harta dan tahta dari lawan jenisnya.
Orang yang serakah selalu tidak pernah merasa puas dan bersyukur dengan apa yang ia miliki, serta cenderung menjadi pemarah. Se¬lan¬jutnya orang yang pemarah cenderung akan menekan atau menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Cinta kasihnya yang semula murni, setelah dicemari oleh egonya yang kian membesar akan membuat cintanya sebagai tali untuk mengikat kebebasan lawan jenisnya dalam menyalurkan hobinya atau dalam me¬wujudkan misi dan tanggung jawabnya kepada orang tua dan sau¬dara¬nya, perusahaan, karyawan dan relasinya, serta masyarakat dan bang¬sa¬nya dalam batas-batas yang sebenarnya masih wajar.
Dilihat dari sisi lain, seorang pria atau wanita yang peduli untuk mengendalikan egonya dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak egois. Ia akan menjadi pandai dalam membagi perhatian, waktu dan tang¬gungjawabnya secara baik sehingga terciptalah hubungan yang harmonis untuk saling melengkapi dalam melangsungkan perbaikan hi¬dup agar hidup menjadi lebih sempurna.
Perlu kita sadari kembali bahwa:
Cinta kasih, selalu tanpa syarat dan tanpa pamrih, karena ia ber¬¬sumber pada Tuhan - semakin besar kita memberi, semakin besar kita akan memperolehnya - karena Tuhan mengatur kehi¬dupan di dunia ini me¬nurut hukum kelipatan timbal balik.
Tali cinta, selalu dengan syarat dan pamrih, karena ia bersumber pa¬da ego. Semakin besar kita mengikat, semakin besar pula kita akan di¬ikat.
Alam Manusia, sesungguhnya itu tidak suka diikat, semakin diikat ia akan semakin menjauh. Inilah sebabnya saya sering me¬nga¬takan dalam ceramah, bahwa barang siapa yang menggu¬nakan tali cinta untuk meng¬ikat, maka ia akan berakhir dengan kekosongan atau hampa.
Hukum ketidakmelekatan, mengatur kehidupan di dunia ini mengatakan, “Supaya Anda memperoleh apa saja dalam fisik alam semesta, Anda harus berniat dan memberi perhatian yang cu¬kup pada tu¬juan Anda, bekerja keras dengan segala kemam¬puan pemberian Tuhan dan sikap mental positif, serta pada saat bersamaan - melepaskan kemelekatan pikiran Anda pada hasil¬nya dan berserah kepada Tuhan.
Berdasarkan kesadaran ini, maka bila Anda berniat memperoleh kekasih, istri/suami atau teman hidup sejati, atau mengubah hubungan dengan kekasih, istri/suami atau teman hidup, yang tadinya kurang sejati menjadi sejati, Anda harus memberi cinta kasih dan perhatian yang cukup secara berkelanjutan, serta pada saat bersamaan melepaskan kemelekatan pikiran Anda kepada hasilnya (tanpa pamrih). Cobalah Anda terapkan cara ini dengan tulus dan sabar (sekali lagi harus dengan tulus dan sabar), maka Anda akan mengalami keajaiban. Suatu hal yang ajaib akan terjadi bila tindakan Anda selalu selaras dengan hukum alam.
Setiap kebaikan pasti terdapat sedikit unsur kejahatan di da¬lam¬nya, begitu pula sebaliknya. Sebagai contoh:
Bila Anda menyumbangkan sebagian uang Anda kepada fakir mis¬kin yang terkena musibah, kecelakaan, atau yang ingin me¬nyekolahkan anak, atau untuk kelangsungan hidup mereka, maka bagi fakir miskin tersebut dan mayoritas masyarakat pada umumnya, Anda telah berbuat ke¬baikan, tapi bagi minoritas masyarakat yaitu keluarga Anda yang ku¬rang menyadari tujuan hidup mereka sebagai manusia, Anda telah ber¬buat sedikit kejahatan karena menurut mereka sum¬bangan yang Anda beri¬kan ini akan mengorbankan kemewahan hidup mereka (padahal tan¬pa mereka sadari, berkah yang sekarang mereka peroleh dari Tuhan itu berasal dari jelmaan amal kebajikan yang telah mereka lakukan pada kehi¬dupan lalu).
Bila Anda telah benar-benar mengerti hukum polaritas, dalam se¬tiap kebaikan itu pasti terdapat sedikit unsur kejahatan, setelah Anda berbuat kebaikan kepada siapa saja di dunia ini, Anda masih saja dikritik oleh sebagian orang yang bersikap negatif dan membesar-besarkan sisi negatif dari perbuatan baik Anda, maka Anda pasti akan tetap tegar dan terus melakukan kebaikan kepada semua makhluk dengan cinta kasih.
Sebaliknya, bila Anda telah benar-benar mengerti hukum po¬laritas, bahwa setiap kejahatan itu pasti terdapat sedikit unsur kebaikan di dalamnya, maka Anda akan mengerti pula bahwa orang jahat atau orang yang berniat jahat akan selalu membesar-besarkan sedikit ke¬baikan yang terkandung di dalamnya, dengan tujuan untuk menutupi kejahatan besar yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, hindarilah mereka dan pada saat yang tepat, berilah petunjuk kepada mereka ke jalan Ketu¬han¬an dengan penuh cinta kasih, agar mereka mengalami kebahagiaan sejati bersama kita.
Setiap keberuntungan pasti terdapat sedikit unsur kerugian
di dalamnya, begitu pula sebaliknya.
Mereka yang belum begitu mengerti tentang cara kerja hukum polaritas biasanya takut untung dan takut sukses. Oleh karena itu, lebih banyak orang di dunia ini yang taraf kekayaan materinya biasa atau miskin dibanding yang kaya raya dan sukses bukan? Saya tidak menga¬takan kebanyakan orang tidak ingin untung dan kaya, yang saya katakan adalah kebanyakan orang di dunia ini justru takut untung dan kaya, kare¬na setiap keuntungan dan kekayaan pasti mengandung sedikit resiko kerugian dan kegagalan di dalamnya. Bila Anda takut dan tidak bersedia membayar biaya keuntungan dan kekayaan tersebut, bagaimana mung¬kin Anda bisa memperoleh keuntungan dan kekayaan besar. Se¬bagai contoh:
Bila Anda seorang pekerja dan ingin berpenghasilan lebih besar serta fasilitas hidup yang lebih baik, tapi Anda menolak untuk dipromo¬sikan jabatannya, bagaimana mungkin Anda dapat memperoleh keun¬tung¬an itu? Cobalah periksa diri Anda, apa yang sebenarnya Anda takut¬kan? Apakah ketidakbersediaan Anda untuk dipromosikan itu karena Anda memiliki salah satu faktor seperti di bawah ini:
Apakah karena Anda takut tidak mampu dan takut dikritik bila sampai benar-benar tidak mampu, jabatan Anda diturunkan lagi?
Untuk menghilangkan rasa takut ini, perlu diketahui bahwa rasa takut dengan kreatifitas itu saling berlawanan. Bila Anda sedang takut, sinar batin Anda yang menjadi sumber pengetahuan akan digelapkan oleh rasa takut tersebut, akibatnya pikiran akan menjadi gelap atau bo¬doh. Sedangkan pada saat Anda tidak merasa takut dan emosi negatif lainnya termasuk nafsu dan ego, sinar batin Anda akan menjadi jernih dan pikiran Anda akan menjadi kreatif, serta penglihatan Anda akan menjadi luas tanpa batas.
Selanjutnya, Anda juga perlu ketahui bahwa sinar batin yang se¬nan¬tiasa ada di hati Anda itu (hati nurani Anda) adalah percikan sinar Tuhan. Ia merupakan sumber pengetahuan dan memiliki daya cipta serta kekuatan manajemen yang tidak terbatas. Sedangkan otak manusia yang disinari oleh sinar batin dinamakan pikiran. Pada saat sinar batin Anda tidak dibiaskan atau ditutupi oleh rasa takut atau emosi negatif lain dan Anda tidak ada egonya karena bekerja untuk kepentingan semua, serta Anda tidak bernafsu karena bukan Anda yang mengejar jabatan yang lebih tinggi. Tapi berdasarkan penilaian prestasi kerja dan ke¬mampuan Anda, Anda diberi kesempatan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi, maka pikiran Anda akan jernih dan menjadi jenius, ser¬ta penglihatan Anda menjadi luas tanpa batas. Bila demikian halnya apa yang harus Anda takutkan? Begitu pula, bila Anda tahu bahwa Tuhan itu Maha Adil, Pengasih, Penyayang, mengapa Anda takut? Bukankah rasa takut itu malah akan melumpuhkan Anda dan membuat pikiran men¬jadi bodoh dan munafik.Supaya Anda puas, marilah kita lihat dari sisi negatifnya, bagai¬mana bila Anda sampai benar-benar tidak mampu? Anda harus jujur dan bertanya pada diri Anda sendiri: “Sebelum saya mencobanya, bagai¬mana saya tahu kalau saya itu mampu?”
Perlu Anda ketahui bahwa orang yang sukses tidak pernah berhenti berusaha dan orang yang ber¬henti berusaha tidak pernah sukses. (Bacalah kalimat ini 3 kali setiap hari sebelum Anda berangkat ke tempat kerja, maka ia akan bekerja secara ajaib bagi kesukses¬an hidup Anda!)
Setiap kepintaran pasti terdapat sedikit unsur kebodohan di da¬lam¬nya, begitu pula sebaliknya.
Tidak ada orang yang pintar dan unggul di segala bidang. Semua orang itu adalah guru di suatu bidang dan murid dari bidang lainnya. Me¬nyadari hal ini, maka kita harus selalu:
a. Memilih spesialisasi yang sesuai dengan kepintaran atau bakat kita ma¬sing-masing dan tidak boleh ikut-ikutan orang lain, karena apa yang cocok bagi Anda. Dengan jalan pikiran dan Bioenergi, kita akan menjadi fokus dan kita dapat menjadi unggul pada bidang spesialisasi tersebut.
b. Memilih satu bidang spesialisasi yang sesuai dengan kepintaran atau bakat kita masing-masing dan tidak boleh ikut-ikutan orang lain, karena apa yang cocok bagi orang lain belum tentu cocok bagi Anda. Dengan jalan ini pikiran dan energi kita akan men¬jadi fokus dan kita akan unggul pada bidang spesialisasi ter¬sebut.
c. Bekerja secara tim (team work). Dengan bekerja tim kita dapat menyumbangkan keunggulan kita masing-masing dan saling me¬lengkapi untuk mencapai hasil yang besar dan hidup lebih baik.
d. Belajar dari keunggulan dan kegagalan orang lain, dengan jalan ini kita menjadi tetap unggul dan sukses berkelanjutan. Ada pepatah me¬nga¬takan: “Pada saat murid siap, guru akan tam¬pak.”
Bila kita mengatakan pada diri kita bahwa setiap orang yang bertemu kontak dengan kita itu adalah guru kita, maka kita dapat belajar dari mereka. Kita dapat memilih untuk mengikuti apa yang baik dan memperbaiki apa yang tidak baik. Pada saat kita melihat apa yang tidak baik pada seseorang, kita akan memantulkan tindakan kita sendiri dan meng¬ingatkan diri kita untuk tidak seperti dia. Misalnya, bila kita me¬li¬hat orang yang mudah tersinggung dan cepat marah itu tidak pantas, sering¬kali bukannya memecahkan masalah malah menimbulkan masalah baru, maka orang tersebut sebenarnya pantas untuk mendapatkan te¬rimakasih dari kita, karena ia adalah contoh hidup dari apa yang tidak seharusnya demikian. Di sisi lain, kita harus belajar dari orang bijak yang selalu me¬maparkan sisi terang dari kehidupan. Ia memiliki sikap mental po¬sitif yang membawa kenikmatan bagi orang lain dan penghargaan ke¬pada dirinya.
Bila setiap orang dengan rendah hati mau belajar dan menjadi orang bijak, bukankah hidup ini akan menjadi lebih indah dan lebih baik? Ini¬lah fundamental dari hukum polaritas yang diciptakan Tuhan untuk diikuti dan dicapai oleh setiap manusia.
e. Hukum siklus kehidupan
Segala sesuatu yang dilahirkan, baik manusia, binatang, tumbuhan maupun produk berupa barang atau jasa pelayanan akan tumbuh, berkembang, dan menjelma (mati dan dilahirkan kembali), kemudian tumbuh, berkembang, dan menjelma lagi ... Begitu seterusnya, di mana masa lalu dan masa depan saling mengikuti.
Hukum siklus kehidupan dimaksudkan Tuhan agar manusia:
1. Menyadari bahwa tidak ada yang kekal dan statis. Untuk sukses, manusia harus menyelaraskan tujuan, pikiran dan tindakannya dengan hukum ini.
2. Mempersiapkan dan melakukan pembaharuan produk (barang atau jasa pelayanan) yang dihasilkan sesuai dengan batasan umur produk.
Sebagai contoh:
1) Rancangan lingkungan perumahan dan tempat usaha harus diperbaharui sesuai siklus kehidupannya, yaitu setiap 10 ta¬hun sekali.
2) Rancangan setiap bangunan: rumah tinggal, rumah toko/kan¬tor, industri dan lain-lain harus diperbaharui sesuai siklus kehidupannya, yaitu setiap 3 tahun sekali (walaupun peru¬bahan modelnya sedikit).
3) Renovasi setiap bangunan rumah tinggal, rumah makan, ru¬mah sakit, stasiun pengisian bahan bakar/SPBU, rumah toko, kantor, hotel termasuk peralatan dan perlengkapannya ha¬rus sudah diperbaharui sesuai siklus kehidupannya, yaitu se¬tiap 12 tahun sekali.
3. Mempersiapkan dan melakukan regenerasi (generasi muda meng¬gantikan generasi tua) yang ideal dan sekaligus memberi kesempatan yang sama kepada generasi muda untuk ber¬pe¬ran aktif dan memperoleh keberhasilan di setiap bidang usaha. Begitu pula sebaliknya.
f. Hukum siklus kehidupan dan hubungan antar manusia
Ulat ditumbuh-kembangkan oleh alam menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu. Perubahan ini diatur dan merupakan bagian dari hukum siklus kehidupan. Pada setiap wujud alam yang berbeda, jenis makanannya pun berbeda. Bila ulat memakan makanan kupu-kupu berupa sari dari bunga-bungaan maka ia akan mati, begitu pula bila ulat telah berubah menjadi kupu-kupu dan memakan makanan ulat dari tanah maka ia pun akan mati pula.
Sejajar dengan ini, makanan bagi hubungan manusia pun berbeda dari satu periode ke periode berikutnya. Ambillah sebuah contoh dari hubungan pasangan suami-istri. Pada saat mereka berumur :
40 tahun, makanan lahiriah bagi hubungan mereka pada umum¬nya akan lebih dominan daripada makanan batiniah
50 tahun, makanan lahiriah bagi hubungan mereka pada umum¬nya akan sama dominannya dengan makanan batiniah.
65 tahun, makanan lahiriah bagi hubungan mereka pada umum¬nya akan menjadi kurang dominan bila dibandingkan dengan makanan batiniah.
Apa yang dimaksud dengan makanan lahiriah adalah makanan yang dapat memenuhi kebutuhan lahiriah, antara lain: uang (atau apa saja yang dapat dibeli dengan uang, misalnya: makanan, pakaian, rumah, ken¬daraan dan segala sesuatu yang dapat membuat kehidupan rumah tang¬ga menjadi nyaman), seks, penampilan fisik yang ceria dan sederhana.
Apa yang dimaksud dengan makanan batiniah adalah makanan yang dapat memenuhi kebutuhan batiniah (atau roh/spiritual/iman), yaitu perwujudan dari cinta kasih dalam arti yang sesungguhnya; rasa puas, terima kasih, rasa berhutang budi (akhlak), rasa simpati, rasa maaf, toleransi, kearifan, dan kebijaksanaan, serta perkataan yang menyejukkan hati dan perbuatan amal kepada pasangan hidupnya dan semua makhluk tanpa pamrih adalah produk dari cinta kasih.
Bila Anda ingin sukses berkelanjutan dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan pasangan hidup, Anda harus berusaha memberi makanan yang cocok dengan alam pasangan hidup Anda dari waktu ke waktu secara moderat (tidak ekstrim atau berlebihan), sebab segala sesuatu yang ekstrim di dunia ini akan mengakibatkan disharmoni dan kerusakan.
Kecerdasan Bioenergi Mengungkap Kebijaksanaan Kita Sendiri
Hidup di dunia yang penuh dengan begitu banyak pesan yang bertentangan tentang apa yang seharusnya kita pikirkan, rasakan, dan percayai, menemukan bim¬bingan batin kita sendiri, men¬dengarkan kepala suara kecil di da¬lam diri, dan mendengarkan geme¬risik hati kita, bisa merupakan hal yang sulit pada awalnya. Namun inilah hubungan langsung dengan diri kita di mana sesungguhnya kita sudah bijaksana. Bahkan kita me¬mi¬liki semua jawaban yang kita bu¬tuhkan di dalam diri kita seka¬rang, dan semua sumber dayanya juga.
Hal ini tidak berarti bahwa kita tidak membutuhkan orang lain; para sahabat dan rekan menambahkan cinta, kekayaan, dan berbagai karunia kepada hidup kita. Kita bahkan sering dianjurkan untuk percaya bahwa orang lain lebih tahu daripada kita; kita diajarkan untuk melepaskan tanggung jawab atas diri kita dan tindakan kita serta dilatih untuk melepaskan kekuatan kita. Meski demikian, kita bisa belajar memiliki kembali Kecerdasan Bioenergi.
Kecerdasan Bioenergi mengungkapkan jalur jalan kita dan panggilan hidup kita setiap kali. Bila kita percaya dan melangkah setiap kali, maka langkah berikutnya menjadi jelas. Inilah beberapa gagasan tentang bagaimana memperbaharui atau memperkuat hubungan Anda dengan Kecerdasan Bioenergi Anda.
Ambillah saat yang tenang atau saat untuk merenung kemudian telitilah berbagai pemikiran dan perasaan Anda tanpa menghakimi atau berupaya mengubah semua itu.
Perhatikanlah bagaimana Anda sungguh-sungguh merasakan
situasi-situasi tertentu dalam hidup Anda. Anda mungkin telah berhasil menolak perasaan-perasaan Anda, jadi mulailah dengan memperhatikan bagaimana Anda sungguh-sungguh merasa.
Perhatikanlah bagaimana Anda mencoba merasionalkan Kecer¬dasan Bioenergi Anda, memutuskan ia tidak mungkin bisa benar atau masuk akal.
Lontarkanlah pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri seperti:
“Apa yang saya suka lakukan?” “Di manakah hati saya?” “Apa yang sedang memberi saya inspirasi? “Apa panggilan hidup saya sekarang?”
Inilah kekuatan Kecerdasan Bioenergi. Masing-masing diri me¬miliki kolam yang berisi berbagai gagasan inovatif yang bisa kita timba, dan kolam ini tidak pernah kering. Kita tidak sekedar memiliki satu gagasan terinspirasi, tapi bisa memilikinya dalam jumlah yang tak ter¬batas. Inspirasi kita merupakan sambungan langsung dengan otak universal yang ada di belakang semua ciptaan. Seluruh cerita tentang evo¬lusi manusia adalah cerita tentang orang-orang yang memiliki gagasan-gagasan terinspirasi, kemudian keberanian dan kepercayaan diri untuk mengikutinya. Orang-orang biasa bisa melakukan berbagai hal yang luarbiasa bila mereka terinspirasi, karena inspirasi langsung menyusup ke dalam inti dari kreatifitas itu sendiri. Inspirasi membuat kita bisa melihat cakrawala baru, tumbuh di luar batas-batas yang kita ciptakan di dalam benak kita, dan membayangkan kembali diri kita di dunia. Inspirasi merupakan tangan tak terlihat yang dengan lembut mendorong kita untuk menjadi diri yang sebenarnya. Dia menyalakan bara berbagai janji tentang apa yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Inspirasi menyingkirkan halangan-halangan kita dan membuang perasaan keterbatasan kita. Dan itu terjadi di setiap bidang hidup kita, dari memutuskan untuk mengecat ruang di dalam rumah dengan warna yang tak lazim sampai pada menemukan permainan yang disukai oleh anak-anak kita.
Kecerdasan Bioenergi sebagai Sistem Penggerak Kehidupan
Jiwa kita berisi Kecerdasan Bioenergi Alamiah yang merupakan unsur penciptaan kita. Jiwa kita mengetahui gambaran besar dari hidup kita dan mengungkapkannya kepada kita melalui Bioenergi. Banyak orang telah terlatih untuk percaya bahwa cara untuk menjalani hidup dengan kekayaan adalah memusatkan perhatian pada hal yang kita inginkan, membuat tujuan-tujuan, membuat rencana, mengambil tindakan besar, memaksakan kehendak kita, dan tidak hendak menyerah sebelum berhasil. Kita telah menghargai logika dan mendorong evolusi yang terbentang.
Kita sebenarnya telah belajar membanggakan diri karena tidak mendengarkan panggilan batin, karena mampu menolaknya dan tidak membiarkan hal-hal seperti itu menghalangi prestasi-prestasi kita. Tapi kesengsaraan sering disebabkan karena tidak mengikuti Kecerdasan Bioenergi.
Memang banyak organisasi memberi penghargaan kepada orang justru karena mereka melakukan hal yang tidak mereka inginkan dan berlawanan dengan prinsip hidup mereka. Itulah cara kerja dunia bisnis dan perusahaan bekerja, dan bagi beberapa orang cara tersebut berjalan baik. Tapi sering upaya ini berakhir dengan tekanan pikiran, ketidakseimbangan, kesepian, perasaan kosong, dan bahkan mempertanyakan segalanya tentang hidup. Kapan kita sampai? Di mana arti dari tujuan? Di manakah kegembiraan? Di manakah cinta? Tanpa kesadaran bahwa pekerjaan dan kekayaan kita memiliki hubungan batin yang kuat, dan semua itu merupakan ungkapan dari batin kita maka semua itu tampak kurang berarti.
Kita tidak tahu ke mana kita bisa meminta bantuan bila setiap orang di sekitar kita sedang berada di rollercoaster yang sama dan tidak mempertanyakan mengapa mereka menumpang kereta itu. Jawabannya adalah bahwa kita harus meminta bantuan kepada diri sendiri, diri tak bersyarat kita: dia memiliki rencana untuk kebahagiaan kita dan kekayaan yang tidak akan pernah hancur, dan rencana ini diungkapkan kepada kita melalui Kecerdasan Bioenergi. Pondasi yang kokoh atas kemampuan untuk mengetahui dalam batin kita tidak pernah lenyap, dan Kecerdasan Bioenergi merupakan jalan tempat jalur unik kita diungkapkan kepada kita.
Dalam pekerjaan dan dalam semua bidang kehidupan kita, dia selalu berani mengikuti jalur kita yang unik, justru karena dalam membuat jalur kita sendiri bisa membuat kita pergi secara tiba-tiba ke arah yang tampak sangat tidak aman. Inilah jalan yang jarang dilalui, ini adalah mendengarkan kepada dentaman genderang Anda sendiri. Kita sudah diajarkan bahwa hidup cukup berbahaya, tanpa meninggalkan jalan yang telah dilewati banyak orang. Petualangan adalah gagasan yang bagus, tapi tidak demikian bila hal itu menyangkut pekerjaan dan karier kita - meskipun jiwa kita merindukan petualangan dan evolusi.
Diri tak bersyarat kita digerakkan oleh sistem bimbingan batin dan terungkap dengan cara mendengarkan dan mengikuti Kecerdasan Bioenergi. Kecerdasan Bioenergi alamiah yang hakiki dalam diri kita, tapi yang terlalu sering hilang dalam kegaduhan hidup masa kini. Begitu banyak motivasi kita dibimbing dan digerakkan oleh kekuatan-kekuatan luar, kekuatan pasar, teman-teman, melemah atau meningkatnya ekonomi, berbagai kecenderungan masa kini, arah masa depan, penghargaan, kesibukan terus-menerus, dan melakukan hal yang kita pikir dilakukan dan wajib dilakukan. Hal-hal seperti ini datang dan pergi dengan begitu saja. Tentu kita perlu memperhitungkan semua itu, tapi kadang-kadang kita lupa untuk mendengarkan sistem bimbingan batin kita, yang konsisten melampaui waktu dan perubahan-perubahan dari luar.
Keindahan Bioenergi adalah bahwa dia tersedia sama banyaknya untuk semua orang, tanpa memandang reputasi, pengalaman, usia, jenis kelamin, atau tempat tinggal mereka. Anda tidak memerlukan pengalaman bertahun-tahun untuk menggunakannya, namun sekedar wawasan yang dalam dan kesadaran sekarang. Siapa pun bisa mendapatkan wawasan itu kapan saja. Jika kita menghubungkan diri dengan kekuatan hidup yang penting ini, Kecerdasan Bioenergi bisa mengantarkan kita menuju inspirasi, yang merupakan daya yang membawa kita maju dan memotivasi kita untuk bertindak. Kecerdasan Bioenergi adalah kompas alamiah kita. Ia bisa membimbing kita menuju tujuan hidup kita, menuju kekayaan, peluang, dan kebahagiaan.
Seperti adanya saat ini, setelah bertahun-tahun dikondisikan, diprogramkan, dan diabaikan, kita mungkin belum belajar untuk mendengarkan dia sepenuhnya, atau mendengarkan tapi tidak mempercayai sepenuhnya. Pada umumnya, kita menolak Kecerdasan Bioenergi, dan menghargai secara berlebihan pemikiran logis dan rasional kita. Kita bahkan mungkin tidak menyadari bahwa dia adalah kecerdasan lain yang mengagumkan, yang bisa kita gunakan sewaktu-waktu. Namun, Kecerdasan Bioenergi sangatlah pribadi sekaligus mampu menghubungkan kita dengan segala sesuatu dan orang lain. Kecerdasan Bioenergi adalah demonstrasi bahwa kita tidak sendirian. Tantangan yang diberikan adalah untuk mendengarkan dan mengikuti Kecerdasan Bioenergi secara lebih mendalam perlu menyingkirkan setiap penghalang, dan jaringan lama yang mengkondisikan kita dengan berbagai keyakinan dan sikap.
Harta Dan Rezeki Yang Baik ( By Bioenergi) V.4
Harta yang Pemiliknya Merasa Cukup
Harta yang baik sebagai rezeki dari Allah adalah harta yang tidak menggerogoti jiwa pemiliknya. Harta tersebut tidak seperti air laut, yang setiap kali kita meminumnya jika haus, akan membuat kita makin haus. Harta yang baik adalah harta yang pemiliknya merasa cukup dengan harta itu. ia tidak silau dengan kemegahan dan kemewahan. Hidupnya sederhana, karena ia merasa dengan harta itu sudah cukup.
Kriteria cukup ini punyai kaitan erat dengan hal pertama dan kedua. Tanpa rasa cukup pada dirinya, mana mungkin seseorang akan membelanjakan hartanya di jalan Allah, maupun sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Ia akaan terus berasalan bahwa kebutuhannya belum cukup sehingga belum bisa berinfak maupun beramal. Ketika dimintai sumbangan masjid, ia berdalih masih harus memperbaiki atap rumah atau kraan dapur yang bocor. Saat perpustakaan sekolah membutuhkan buku-buku bermutu ia tidak mau berpatisipasi karena anaknya sendiri pun masih butuh buku. Pokoknya, ia hanya mau beramal dengan hartanya kalau semua kebutuhannya sudah terpenuhi. Padahal adakah seseorang seperti itu merasa cukup dengan kebutuhannya? Ketika masih kontrak rumah, ia tidak mengeluarkan hartanya untuk berjihad dengan dalih mau beli rumah, ketika sudah membeli rumah, mengisi perabotan dan peralatan rumah menjadi alasan. Ketika semua sudah lengkap, renovasi rumah ganti menjadi dalih. Berikutnya renovasi dan beli rumah lagi yang lebih besar. Akhirnya, saampaai kapan ia merasa cukup?
Oleh karena itu, harta yang baik adalah harta yang membuat pemiliknya merasa cukup. Keuntungannya, adalah ia tidak diperbudak hawa nafsu dengan harta itu. hidupnya akan tenang, tidak ngoyo dalam mengejar dunia. Kedua, dengan kecukupannya, ia bisa menafkahkannya hartanya di jalan Allah atau sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, meskipun antara kecukupan atau keinginan untuk beramal adalah sesuatu yang berbeda. Bisa jadi seseorang merasa cukup dengan hartanya, tapi ia tidak tergerak untuk beramal. Namun yang jelas, kalau seseorang masih merasa kurang dengan hartanya ia tidak akan mungkin beramal.
Ciri-ciri harta yang baik dapat kita amati dari kehidupan para sahabat Nabi Muhammad SAW, salah satunya Abdurrahman bin Auf. Salah satu sahabat yang paling kaya, ia tidak merasakan masalah ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Padahal dengan hijrah tersebut semua harta bendanya harus ditinggalkan begitu saja, sementara di Madinah belum tahu nasibnya seperti apa. Ia hijrah dengan tidak membawa apa-apa. Di Madinah ia persaudarakan dengan salah seorang Muslim Madinah yang memberikan materi bahkan mencarikan istri baginya. Abdurrahman menolak dan hanya berkata, “Tolong tunjukkan saja di mana letaknya pasar Madinah!” Ia berdagang dan berusaha lagi sehingga akhirnya menjadi kaya kembali. Dalam sejarah, ia tercatat pernah memberikan utang sepertiga penduduk Madinah. Ia juga pernah membeli tanah seharga 40 ribu dinar dan dibagikan kepada keluarga Nabi dan kaum muslimin yang fakir. Suatu ketika ia menyediakan 1500 ekor ekor kuda untuk keperluan jihad. Pada saat meninggal, ia mewasiatkan agar para veteran Perang Badar diberikan masing-masing 400 dinar. Sampai-sampaai Ustman bin Affan, salah satu sahabat yang juga kaya pun mengambil bagiannya, Utsman berkata, “Sesungguhnya harta Abdurrahman halal dan suci dan makan dari harta itu sehat serta berkah.”
Itulah contoh harta yang baik, Abu Bakar as-Shiddiq sahabat Nabi Muhammad SAW paling senior pernah menyerahkan seluruh hartanya kepada Nabi Muhammad SAW untuk digunakan bagi kepentingan umum, Nabi Muhammad SAW sendiri kaget, “Nanti engkau dan keluargamu makan apa, wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Cukup Allah yang menjamin hidupku dan keluargaku.” Abu Bakar adalah puncak dari sosok seseorang yang merasa cukup dengan rezeki harta yang diberikan Allah kepadanya.
Harta Dan Rezeki Yang Baik ( By Bioenergi) V.4
Harta yang Pemiliknya Merasa Cukup
Harta yang baik sebagai rezeki dari Allah adalah harta yang tidak menggerogoti jiwa pemiliknya. Harta tersebut tidak seperti air laut, yang setiap kali kita meminumnya jika haus, akan membuat kita makin haus. Harta yang baik adalah harta yang pemiliknya merasa cukup dengan harta itu. ia tidak silau dengan kemegahan dan kemewahan. Hidupnya sederhana, karena ia merasa dengan harta itu sudah cukup.
Kriteria cukup ini punyai kaitan erat dengan hal pertama dan kedua. Tanpa rasa cukup pada dirinya, mana mungkin seseorang akan membelanjakan hartanya di jalan Allah, maupun sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Ia akaan terus berasalan bahwa kebutuhannya belum cukup sehingga belum bisa berinfak maupun beramal. Ketika dimintai sumbangan masjid, ia berdalih masih harus memperbaiki atap rumah atau kraan dapur yang bocor. Saat perpustakaan sekolah membutuhkan buku-buku bermutu ia tidak mau berpatisipasi karena anaknya sendiri pun masih butuh buku. Pokoknya, ia hanya mau beramal dengan hartanya kalau semua kebutuhannya sudah terpenuhi. Padahal adakah seseorang seperti itu merasa cukup dengan kebutuhannya? Ketika masih kontrak rumah, ia tidak mengeluarkan hartanya untuk berjihad dengan dalih mau beli rumah, ketika sudah membeli rumah, mengisi perabotan dan peralatan rumah menjadi alasan. Ketika semua sudah lengkap, renovasi rumah ganti menjadi dalih. Berikutnya renovasi dan beli rumah lagi yang lebih besar. Akhirnya, saampaai kapan ia merasa cukup?
Oleh karena itu, harta yang baik adalah harta yang membuat pemiliknya merasa cukup. Keuntungannya, adalah ia tidak diperbudak hawa nafsu dengan harta itu. hidupnya akan tenang, tidak ngoyo dalam mengejar dunia. Kedua, dengan kecukupannya, ia bisa menafkahkannya hartanya di jalan Allah atau sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, meskipun antara kecukupan atau keinginan untuk beramal adalah sesuatu yang berbeda. Bisa jadi seseorang merasa cukup dengan hartanya, tapi ia tidak tergerak untuk beramal. Namun yang jelas, kalau seseorang masih merasa kurang dengan hartanya ia tidak akan mungkin beramal.
Ciri-ciri harta yang baik dapat kita amati dari kehidupan para sahabat Nabi Muhammad SAW, salah satunya Abdurrahman bin Auf. Salah satu sahabat yang paling kaya, ia tidak merasakan masalah ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Padahal dengan hijrah tersebut semua harta bendanya harus ditinggalkan begitu saja, sementara di Madinah belum tahu nasibnya seperti apa. Ia hijrah dengan tidak membawa apa-apa. Di Madinah ia persaudarakan dengan salah seorang Muslim Madinah yang memberikan materi bahkan mencarikan istri baginya. Abdurrahman menolak dan hanya berkata, “Tolong tunjukkan saja di mana letaknya pasar Madinah!” Ia berdagang dan berusaha lagi sehingga akhirnya menjadi kaya kembali. Dalam sejarah, ia tercatat pernah memberikan utang sepertiga penduduk Madinah. Ia juga pernah membeli tanah seharga 40 ribu dinar dan dibagikan kepada keluarga Nabi dan kaum muslimin yang fakir. Suatu ketika ia menyediakan 1500 ekor ekor kuda untuk keperluan jihad. Pada saat meninggal, ia mewasiatkan agar para veteran Perang Badar diberikan masing-masing 400 dinar. Sampai-sampaai Ustman bin Affan, salah satu sahabat yang juga kaya pun mengambil bagiannya, Utsman berkata, “Sesungguhnya harta Abdurrahman halal dan suci dan makan dari harta itu sehat serta berkah.”
Itulah contoh harta yang baik, Abu Bakar as-Shiddiq sahabat Nabi Muhammad SAW paling senior pernah menyerahkan seluruh hartanya kepada Nabi Muhammad SAW untuk digunakan bagi kepentingan umum, Nabi Muhammad SAW sendiri kaget, “Nanti engkau dan keluargamu makan apa, wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Cukup Allah yang menjamin hidupku dan keluargaku.” Abu Bakar adalah puncak dari sosok seseorang yang merasa cukup dengan rezeki harta yang diberikan Allah kepadanya.
Harta Dan Rezeki Yang Baik ( By Bioenergi) V.3
Harta yang Bermanfaat Bagi Orang Lain
Memang tidak sedikit orang yang mendapatkan harta haram kemudian menafkahkannya untuk kepentingan agama atau masyarakaat umum dengan alasan supaya bersih. Misalnya seseorang yang melakukan korupsi, sebagian harta korupsi tadi dipakai untuk menyumbang masjid atau membangun rumah sakit. Menurut HM. Syaiful M. Maghsri penggunaan harta seperti ini, walaupun ikhlas tidak akan di terima oleh Allah. Hartanya pun terkategori harta yang tidak baik.
Harta Dan Rezeki Yang Baik ( By Bioenergi) V.3
Harta yang Bermanfaat Bagi Orang Lain
Memang tidak sedikit orang yang mendapatkan harta haram kemudian menafkahkannya untuk kepentingan agama atau masyarakaat umum dengan alasan supaya bersih. Misalnya seseorang yang melakukan korupsi, sebagian harta korupsi tadi dipakai untuk menyumbang masjid atau membangun rumah sakit. Menurut HM. Syaiful M. Maghsri penggunaan harta seperti ini, walaupun ikhlas tidak akan di terima oleh Allah. Hartanya pun terkategori harta yang tidak baik.
Harta Dan Rezeki Yang Baik ( By Bioenergi) V.2
Harta yang Mendekatkan Pemiliknya Kepada Allah
Menurut HM. Syaiful M. Maghsri harta yang baik adalah harta yang didapat dari cara yang halal dan harta tersebut makin mendekatkan pemiliknya dengan Allah. Ia menuturkan harta yang justru menjauhkan pemiliknya dengan Allah adalah musibah. Syaiful memaparkan tipe manusia seperti ini jelas tidak akan bersyukur atas apa yang telah diterimanya. Ia memberi contoh, seorang manajer mempunyai penghasilan yang besar dari usaha yang halal. Namun, karena seharian penat bekerja maka malam harinya ia pergi nightclub dan berhura-hura dengan minum-minuman keras, keceriaannya di malam itu untuk menghilangkan kepenatan justru melanggar tuntutan agama. Harta semacam itu, meski didapatkan dengan cara yang halal, merupakan harta yang tidak baik karena dibelanjakan dengan cara yang batil.
Hal yang semestinya dilakukan manajer tersebut adalah ia siang hari bekerja keras, pulang kantor ia langsung pulang untuk bercengkerama dengan anak dan istrinya. Kehadirannya dia di tengah keluarga akan membawa keceriaan sejati di rumahnya. Harta yang dia dapatkan sebagai hasil usaha keras di siang hari, dibelikan mainan dan hadiah untuk anak ataupun istrinya. Bisa juga ia mencari aktivitas lain dengan menghadiri acara-acara majelis zikir atau ilmu. Harta yang didapatkan dipakainya untuk menambah ilmu atau membantu saudara-saudaranya yang lain. Harta yang dibelanjakan tidak saja dengan cara yang benar, tapi juga agar mendekatkan dirinya kepada Sang Khaliq adalah harta yang baik. Harta yang tidak akan dihisab, kecuali dengan diberikan imbalan yang berlipat ganda seperti janji Allah;
“Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir tumbuh seratus biji. Allah melipat gandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas karunia-Nya lagi Maha Menngetahui.” (Al-Baqarah : 261)
Dapat dibayangkan betapa besar imbalan yang diberikan Allah bagi mereka yang menggunakan hartanya untuk keperluan agama dan masyarakat luas. Menggunakannya seribu rupiah setara dengan tujuh ratus ribu rupiah. Bagaimana kalau sejuta? Bagaimana kalau lebih dari itu? Itu pun janji Allah bisa lebih dari sekadar perkalian tujuh ratus. Hanya saja, kalau di peruntukkan sebagai pemberian kepada orang lain, maka dilarang dengan menyakiti atau mengukit-ungkit pemberian itu. Juga, tidak pamer agar terlihat orang lain meskipun menampakkan pemberian tidak dilarang.
Dalam lanjutan ayat tersebut Allah memberikan perumpamaan jika seseorang menafkahkan hartanya di jalan Allah tapi dengan cara menyebut-nyebut pemberian tersebut dan dengan maksud riya’ maka ia laksana tanah di atas batu licin. Tanah itu akan segera lenyap dengan adanya embusan angin atau hujan deras. Sementara, orang yang menafkahkannya dengan keridhaan diri ingin mendekatkan dirinya dengan Allah maka ia seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat. Maka kebun itu akan menghasilkan buah yang berlipat ganda. Kalau pun hujan lebat tidak menyiramnya, hujan rintik-rintik pun dapat membuat kebun tersebut berbuah dengan baik.
Jadi, syarat harta yang baik adalah harta yang didapat dengan cara halal kemudian digunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta berupa pemberian kepada orang lain dengan tidak menyakiti yang bersangkutan atau bermaksud riya’ (pamer). Semangkin ia menggunakan harta itu, semangkin ia dekat dengan Allah dan bertambah ketakwaannya. Itulah ciri rezeki harta yang baik.